Senin, 04 Maret 2013

makalah rukun serta syarat pernikahan

jangan lupa add me


KATA PENGANTAR


Penulisan makalah yang  bersipat  sederhana  ini, di buat berdasarkan tugas kelompok  yang di berikan  oleh  dosen  pembimbing mata kuliah  Materi fiqh II yang berjudul Munakahat, rukun dan syarat nikah.
Dengan menucapkan syukur Alhamdulillah, kami semua dapat menyusun, menyesuaikan, serta dapat menyelesaikan sebuah makalah yang amat sederhana ini. Di samping itu, kami mengucapkan rasa terima kasih kepada semua pihak yan telah banyak membantu kami dalam menyelesaikan pembuatan sebuah  makalah ini, baik dalam bentuk moril maupun dalam bentuk materi sehinggadapat terlaksana denan baik.
Kami, sangat menyadari sepenuh nya bahwa makalah kami ini memang masih banyak terdapat kekurangan serta amat  jauh dari kata kesempurnaan. Namun, kami semua telah berusaha semaksimal mungkin dalam membuat sebuah makalah ini. Di samping itu, kami sangat  mengharapkan kritik serta saran nya dari semua rekan-rekan demi tercapai nya kesempurnaan yang di harapkan di masa akan datang.

                                                                                                           

                                                                                          Muara Bungo,03 Maret  2013
                                                                                        Penulis , kelompok empat.                                                                                                                                                                                                      








   DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………1                                                                                                                
DAFTAR ISI………………………………………..…………………………………………2

BAB  1. PENDAHULUAN
          1,2. LATAR BELAKANG…………………………………………………..………….3
          1,3. TUJUAN PENULISAN………………………………………………..…………..3

BAB  2. PEMBAHASAN
           2,2. PENGERTIAN MUNAKAHAT………………………………………………..…4
           2,3. RUKUN PERNIKAHAN………………………………………………………….5
           2,4. SYARAT PERNIKAHAN……………………………………………………..….6
                       
BAB  3. PENUTUP
           3,1. KESIMPULAN…………………………………………………………………....9
           3,2. SYARAN………………………………………………………………………..…9

DAPTAR  PUSTAKA……………………………………………………………………..…10







BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.  Latar  Belakang

Dengan  melihat apa-apa yang telah terjadi didalam kehidupan masyarakat, baik langsung ataupun tak langsung. Tentunya masih banyak terdapat persoalan-persoalan yang menjadi pertanyaan didalam kehidupan bermasyarakat. Persoalan itulah yang menjadi inspirasi penulis untuk membuat sebuah makalah yang berjudul rukun dan syarat pernikahan.

Adapun pernikahan itu sendiri adalah salah satu asas pokok yang paling utama dalam pergaulan atau menjadi masyarakat yang sempurna pernikahan itu bukan saja merupakan satu jalan yang amat mulia untuk mengatur kehidupan rumah tangga dan keturunan, tetapi juga dapat dipandang sebagai jalan menuju pintu perkenalan antara suatu kaum dengan kaum lain, dan perkenalan itu akan menjadi jalan untuk mencapai pertolongan antara satu dengan yang lainnya.

Namun, untuk menuju suatu jenjang pernikahan tentunya memilki banyak kendala atau hal-hal yang perlu diperhatikan serta harus dilaksanakan seperti memenuhi criteria dalam menuju sebuah pernikahan. Salah satunya, harus melaksanakan rukun dan syarat pernikahan yang telah ditentukan.

Adapun rukun dan syarat pernikahan itu, nanti akan dibahas oleh penulis dalam bab pembahasan. Demikianlah alasan penulis untuk mengangkat rukun dan syarat pernikahan sebagai pokok permasalahan dalam makalah ini.



  Muara bungo, 03 Maret 2013
Wassalam penulis, kelompok empat.






1.2. Tujuan penulisan

Adapun tujuan penulis dalam pembuatan tugas  ini, yaitu :

-        Untuk memenuhi kewajiban penulis terhadap dosen yang bersangkutan, dan
-        Untuk menambah wawasan penulis mengenai munakahat

BAB 2
PEMBAHASAN

 2,2. PENGERTIAN MUNAKAHAT ( PERNIKAHAN )

      Kata nikah berasal dari bahasa arab yang berarti bertemu, berkumpul. Menurut istilah  nikah ialah suatu ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan perempuan untuk hidup bersama dalam suatu rumah tangga melalui aqad yang dilakukan menurut hukum syariat  Islam.  Menurut U U  No : 1 tahun 1974,  Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk rumah tangga (keluarga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan YME. Keinginan untuk menikah adalah fitrah manusia, yang berarti sifat pembawaan manusia sebagai makhluk Allah SWT. Setiap manusia yang sudah dewasa dan sehat jasmani rokhaninya pasti membutuhkan teman hidup yang berlainan jenis, teman hidup yang dapat memenuhi kebutuhan biologis yang dapat dicintai dan mencintai, yang dapat mengasihi dan dikasihi, yang dapat diajak bekerja sama untuk mewujudkan ketentraman, kedamaian dan kesejahteraan hidup berumah tangga. Rasulullah SAW bersabda :
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ (رواه البخارى و مسلم)
Artinya :”Hai para pemuda, barang siapa diantara kamu telah sanggup menikah, maka nikahlah. Karena nikah itu dapat menundukkan mata dan memelihara faraj (kelamin) dan barang siapa tidak sanggup maka hendaklah berpuasa karena puasa itu dapat melemahkan syahwat”. (HR. Bukhori Muslim)









2,3. RUKUN PERNIKAHAN
Syah atau tidaknya suatu pernikahan bergantung kepada terpenuhi atau tidaknya rukun        serta penjelasannya. ( lihat tabel )
TABEL : 1
RUKUN
 PENJELASAn
1. Adanya calon suami dan istri
Yaitu, yang tidak terhalang dan terlarang secara syar’i untuk menikah. Di antara perkara syar’i yang menghalangi keabsahan suatu pernikahan misalnya si wanita yang akan dinikahi termasuk orang yang haram dinikahi oleh si lelaki karena adanya hubungan nasab atau hubungan penyusuan. Atau, si wanita sedang dalam masa iddahnya dan selainnya. Penghalang lainnya misalnya si lelaki adalah orang kafir, sementara wanita yang akan dinikahinya seorang muslimah.
2. Sigat ( akad )

Yaitu, yaitu lafadz yang diucapkan oleh wali atau yang menggantikan posisi wali.
 Contoh  Ijab : Wali perempuan berkata kepada pengantin laki-laki : “Aku nikahkan anak perempuan saya bernama si Fulan binti ……  dengan ……. dengan mas kawin seperangkat sholat dan 30 juz dari mushaf Al-Qur’an”.
أَنْكَحْتُكَ وَزَوَّجْتُكِ فُلاَنَة بِنْتِ … بِمَهْرِ عَدَوَاتِ الصَّلاَةِ وَثَلاَثِيْنَ جُزْأً مِنْ مُصْحَافِ الْقُرْاَنِ حَالاً
-   Contoh Qobul : Calon suami menjawab: “Saya terima nikah dan perjodohannya dengan diri saya dengan mas kawin tersebut di depan”. Bila dilafalkan dengan bahasa arab sebagai berikut :
قَبِلْتُ نِكَحَهَا وَتَزْوِجَهَا لِنَفْسِى بِالْمَهْرِ الْمَذْكُوْرِ
-   Perempuan yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya tidak syah. Rasulullah    saw, bersabda : Artinya :”Perempuan mana saja yang menikah tanpa seizin walinya maka pernikahan itu batal (tidak syah)”. (HR. Empat Ahli Hadits kecuali Nasa
3. Wali si perempuan
Yaitu, sesuai dengan sabda Nabi Saw,:
قَبِلْتُ نِكَحَهَا وَتَزْوِجَهَا لِنَفْسِى بِالْمَهْرِ الْمَذْكُوْرِ
“Barang siapa diantara perempuan yang menikahkan tidak dengan izin walinya, maka pernikahannya batal.” ( Riwayat empat orang ahli hadis, kecuali Nasai).
4. Dua orang saksi.
Saksi harus benar-benar adil. Rasulullah saw.,  bersabda
لاَنِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَى عَدْلٍ (روه احمد )
Artinya:”Tidak syah nikah seseorang melainkan dengan  wali dan 2 orang saksi yang       adil”. (HR. Ahmad)















Setelah selesai aqad nikah biasanya diadakan walimah, yaitu pesta pernikahan. Hukum mengadakan walimah adalah sunat muakkad. Rasulullah SAW bersabda :”Orang yang sengaja tidak mengabulkan undangan berarti durhaka kepada Allah dan RasulNya’. (HR. Bukhori)

2,4. Syarat Pernikahan
           
Inilah syarat  pernikahan. Siapa yang melaksanakannya, sahlah pernikahannya. Siapa yang tidak mengerjakannya, batallah pernikahannya.
Apa saja syarat-syarat pernikahan?
1.Izin dari wali si wanita
Nabi  صلى الله عليه وسلم  bersabda:
لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ
“Tidak ada pernikahan kecuali dengan adanya wali. “ (HR. Abu Daud no. 1785 , Tirmidzi no. 1020 dan Ibnu Majah no. 1870 Maktabah Syamilah)
Nabi  صلى الله عليه وسلم  juga bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ مَوَالِيهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَالْمَهْرُ لَهَا بِمَا أَصَابَ مِنْهَا فَإِنْ تَشَاجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ
“Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya batal, nikahnya batal, nikahnya batal. Jika ia telah digauli maka ia berhak mendapatkan mahar, karena lelaki itu telah menghalalkan kemaluannya. Jika terjadi pertengkaran di antara mereka, maka penguasalah yang menjadi wali atas orang yang tidak memiliki wali.” (HR. Abu Daud no. 1783, Tirmdizi no. 1021 dan Ibnu Majah no. 1869 Maktabah Syamilah)

2. Keridaan si wanita sebelum pernikahan.
Rasulullah  صلى الله عليه وسلم  bersabda:
لَا تُنْكَحُ الْأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلَا تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ إِذْنُهَا قَالَ أَنْ تَسْكُتَ
“Tidaklah seorang janda dinikahi hingga diminta pengakuannya dan tidaklah dinikahi seorang gadis hingga dimintai izin. “ Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah apa tandanya kalau ia mengizinkan? “ Beliau menjawab, “Jika ia diam. “ (HR. Bukhari no. 4741 dan Muslim no. 2543 Maktabah Syamilah)
Ibnu Abbas  رضي الله عنهما  bercerita bahwasanya seorang gadis datang kepada Nabi صلى الله عليه وسلم  mengadukan bapaknya yang telah menikahkannya dengan seseorang sedangkan ia tidak menginginkannya. Maka beliau pun memberinya pilihan untuk meneruskan atau menghentikan pernikahannya itu. (HR. Abu Daud no. 1794 Maktabah Syamilah)
Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya, ia berkata:
جَاءَتْ فَتَاةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ أَبِي زَوَّجَنِي ابْنَ أَخِيهِ لِيَرْفَعَ بِي خَسِيسَتَهُ قَالَ فَجَعَلَ الْأَمْرَ إِلَيْهَا فَقَالَتْ قَدْ أَجَزْتُ مَا صَنَعَ أَبِي وَلَكِنْ أَرَدْتُ أَنْ تَعْلَمَ النِّسَاءُ أَنْ لَيْسَ إِلَى الْآبَاءِ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ
“Pernah datang seorang gadis kepada Nabi صلى الله عليه وسلم seraya berucap, ‘Sesungguhnya ayahku telah menikahkanku dengan keponakannya untuk meninggikan derajatnya.’” Buraidah berkata, “Maka Nabi صلى الله عليه وسلم menyerahkan masalah tersebut kepada gadis itu, maka gadis itu pun berkata, ‘Aku tidak keberatan atas tindakan ayahku, hanya saja aku ingin agar kaum wanita mengetahui bahwa para orang tua tidak memiliki hak apa-apa dalam masalah ini (yaitu memaksakan pernikahan).”(HR. An-Nasai no. 3217 dan Ibnu Majah no. 1864 Maktabah Syamilah)
3. Adanya mahar (maskawin) yang diberikan kepada si wanita, baik disebutkan mahar tersebut atau tidak disebutkan ketika akad nikah.
Allah سبحانه وتعالى berfirman, “Berilah mahar kepada wanita (yang kalian nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari mahar itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. “ (QS. An-Nisa: 4)
Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan seorang shahabat miskin yang ingin menikah agar menyerahkan mahar kepada calon pasangannya walaupun berupa cincin dari besi.
4. Dihadiri oleh dua orang saksi
Nabi  صلى الله عليه وسلم bersabda:
لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِىٍّ وَشَاهِدَىْ عَدْلٍ
“Tidak ada pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua saksi yang adil. “ (Sunan Ad-Daruquthni : 3/225 Kitabunnikah)
Adapun syarat untuk menjadi saksi di sini yaitu: Berakal, Baligh, Islam, Laki-laki dan Adil.
Sekali lagi, jika seluruh atau salah satu syarat di atas tidak dipenuhi, batallah pernikahan seseorang. 


















BAB 3
PENUTUP

 3,1. KESIMPULAN
Dari beberapa uraian di atas, yang telah kami bahas. Maka kami mengambil kesimpulan, yaitu sebagai berikut :
1.        Akad nikah mempunyai beberapa rukun dan syarat yang harus dipenuhi. Rukun dan syarat menentukan hukum suatu perbuatan, terutama yang menyangkut dengan sah atau tidaknya perbuatan tersebut dari segi hukum. Kedua kata tersebut mengandung arti yang sama dalam hal bahwa keduanya merupakan sesuatu yang harus diadakan. Dalam pernikahan misalnya, rukun dan syaratnya tidak boleh tertinggal. Artinya, pernikahan tidak sah bila keduanya tidak ada atau tidak lengkap. Perbedaan rukun dan syarat adalah kalau rukun itu harus ada dalam satu amalan dan merupakan bagian yang hakiki dari amalan tersebut. Sementara syarat adalah sesuatu yang harus ada dalam satu amalan namun ia bukan bagian dari amalan tersebut.

2.        Adanya ijab, yaitu lafadz yang diucapkan oleh wali atau yang menggantikan posisi wali. Misalnya dengan si wali mengatakan, “Zawwajtuka Fulanah” (“Aku nikahkan engkau dengan si Fulanah”) atau “Ankahtuka Fulanah” (“Aku nikahkan engkau dengan Fulanah”).


 3,2. SYARAN
Sebagai penutup dari makalah ini, tak luput pula kami ucapkan ribuan terima kasih pada semua rekan-rekan yang telah banyak membantu dalam pembuatan makalah  ini. Di samping itu, masih banyak kekurangan serta jauh dari kata kesempurnaan,  tetapi  kami semua telah berusaha semaksimal munkin dalam pembutan makalah yang amat sederhana ini. Maka, dari pada itu . kami semua sangat berharap kepada semua rekan-rekan untuk memberi kritik atau sarannya, sehingga dalam pembuatan makalah selanjutnya bisa menjadi yan lebih baik, seperti yang kita harapkan.
Tiada kata yan dapat kami ucapkan, selain rasa terima kasih atas semua motivasi                      dari rekan-rekan sekalian.

  Muara bungo, 04 Maret 2013
Wassalam penulis, kelompok empat.

                                                                                      
DAFTAR PUSTAKA

Rasjid,  Sulaiman, Haji., Fiqh Islam, ( Rukun dan Syarat Nikah ), P.T. Sinar Baru Algensindo, Bandung, 1986
Rujukan dari,
http://andreprikitiew.wordpress.com/2012/10/08/munakahat-menurut-islam-download-ppt-dan-word/
http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/24/syarat-sah-pernikahan-496055.html
http://twitter.com/youzhey_gus3G






















                   




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar