Selasa, 11 Juni 2013

Kerangka berpikir irfani : Dasar-Dasar Falsafi Ahwal Dan Maqamat



Bab 4
                                         
Kerangka berpikir irfani : Dasar-Dasar Falsafi Ahwal Dan Maqamat

Lingkup perjalanan menuju allah untuk memperoleh ma’rifat yang berlaku dikalangan sufi sering disebut sebagai sebuah kerangka “Irfani”. Lingkup irfani tidak dapat dicapai dengan mudah atau secara sepontanitas, tetapi melalui proses yang panjang. Yang dimaksud dengan tingkatan (maqam) oleh para sufi ialah tingkatan seorang hamba dihadapan-Nya, dalam hal ibadah dan latihan-latihan jiwa yang dilakuykannya.
Para sufi secara teliti menegaskan perbedaan maqam dan hal. Maqam, menurut mereka, ditandai oleh kemapanan, sementara hal justru mudah hilang. Namun perlu dicatat bahwa anatara maqah dan hal tidak dapat dipisahkan. Keduanya ibarat dua sisi dalam satu mata uang.
A.    Maqam-Maqah  Dalam  Tasawuf
Maqam yang dijalani para sufi umumnya terdiri dari :
1.      Tobat : menurut Qamar Kalilani bahwa tobat adalah rasa penyesalan yang sungguh-sungguh dalam hati disertai permohonan ampun serta meninggalkan segala perbuatan yang menimbulksn dosa.
2.      Zuhud : zuhud dapat diartikan sebagai suatu sikap melepaskan diri dari rasa ketergantungan terhadap kehidupan duniawi dengan mengutamakan kehidupan akhirat.
3.      Faqr ( fakir) : Al-Faqr adalah tidak menuntut lebih banyak dari apa yang telah dipunyai dan merasa puas dengan apa yang dimiliki, sehingga tidak meminta sesuatu yang lain. Faqr dapat berarti sebagai kekurangan harta yang diperlikan seseorang dalam menjalani kehidupan didunia.
4.      Sabar : sabar jika dipandang sebagai pengengkang tuntutan nafsu dan amarah, dinamakan Al-Ghazali sebagai kesabaran jiwa, sedangkan menahan terhadap  penyakit fisik, disebut sebagai sabar badani, kesabaran jiwa sangat dibutuhkan dalam berbagai aspek.
Menurut Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jailani, sabar ada tiga macam yaitu :
a.       Bersabar kepada allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
b.      Bersabar bersama allah
c.       Bersabar atas allah

5.      Syukur : syukur adalah ungkapan rasa terimakasih atas nikmat yang diterima.
6.      Rela ( Ridha ) : Rida’ berarti menerima dengan rasa puas terhadap apa yang dianugrahkan Allah SWT.
7.      Tawakal : hakikat tawakal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah ‘Azza wa jalla, membersihkan diri dari ikhtiar yang keliru dan tetap menapaki kawasan-kawasan hokum dan ketentuan.
B.     Ahwal Yang Dijumpai Dalam Perjalanan Sufi
Ahwal yang sering dijumpai dalam perjalanan kaum sufi antara lain adalah :
1.      Waspada Dan Mawas Diri (Muhasabah Dan Muraqabah)
Waspada dapat diartikan meyakini bahwa Allah mengetahui segala pikiran, perbuatan, dan rahasia dalam hati, yang menjadi seseorang menjadi hormat, takut dan tunduk kepada Allah.
2.      Cinta (Hubb)
Dalam pandangan tasawuf mahabbah (cinta) merupakan pijakan bagi segenap kemuliaan hal, seperti halnya tobat yang merupakan dasar bagi kemulian maqam. Dan menrut kaum sufi mahabbah adalah kecendrungan hati untuk memerhatikan keindahan atau kecantikan.
3.      Berharap dan takut (raja’ dan khauf)
Raja’ dapat berarti berharap atau optimisme. Raja’ atau optimisme adalah perasaan hati yang senang karena menanti sesuatu yang diinginkan dan disenangi.
Raja’ menurut tiga perkara yaitu :
1.      Cinta terhadap apa yang diharapkannya.
2.      Takut harapanya itu hilang.
3.      Berusah untuk mencapainya.
Khauf dan raja’ saling berhubungan.
4.      Rindu (Syauq)
Menurut Al-Ghazali kerinduan kepada Allah dapat dijelaskan melalui penjelasan tentang keberadaan cinta kepada-Nya.
5.      Intim (Uns)
Dalam pandangan sufi, sifat uns (intim) adalah sifat merasa selalu berteman, tak pernah merasa sepi.
 C.    Metode Irfani
Dalam dunia tasawuf, Qalb merupakan pengetahuan tentang  hakikat-hakikat, termasuk didalamnya adalah hakikat marifat. Qalb yang dapat memperoleh ma’rifat adalah yang telah tersucikan dari berbagainoda atau akhlak jelek yang sering dilakukan manusia.berdasarkan uraian di atas bahwa hati menjadi sarana untuk memperoleh marifat.
Untuk memperoleh ma’rifat seseorang harus melalui upaya-upaya tertentu, antara lain
adalah :
1.      Riyadhah
Yaitu latihan kejiwaan melalui upaya membiasakan diri agar tidak melakukan hal-hal mengotori jiwanya.riyadhah dapat pula berarti proses internalisasi kejiwaan dengan sifat-sifat terpuji dan melatih membiasakan meninggalkan sifat-sifat jelek. Riyadhah perlu dilakukan karena ilmu ma’rifat dapat diperoleh melalui upaya melakukan perbuatan kesalehan atau kebaikan yang terus menerus.
2.      Tafakur
Tafakur berlangsung secara internal dengan proses pembelajaran dari dalam diri manusia melalui aktifitas berpikir yang menggunakan perangkat batiniah (jiwa). Nafs kulli mempunyai fungsi yang sangat penting untuk menghasilkan ilmu, terutama ilmu marifat.
3.      Tazkiyat An-Nafs
Tazkiyat an-nafs adalah proses penyucian jiwa manusia. Peroses penyucian jiwa dalam kerangka tasawuf ini dapat dilakukan melalui tahapan takhalli dan tahalli. Upaya melakukan penyempurnaan jiwa perlu dilakukan oleh setiap orang yang menginginkan ilmu marifat.ada lima hal yang menjadi penghalang bagi jiwa dalam menangkap hakikat, 1. Jiwa yang belum sempurna, 2. Jiwa yang dikotori perbuatan-perbuatan maksiat, 3. Menuruti keinginan badan, 4. Penutup yang menghalangi masuknya hakikat kedalam jiwa, 5. Tidak dapat berpikir logis.
4.      Dzikurillah
Secara etimologis, dzikir dalah mengingat, sedangkan secara istilah adalah membasahi lidah dengan ucapan-ucapan pujian kepada Allah.dzikir merupakan metode lain yang paling utama untuk memperoleh ilmu laduni. Dalam pandangan sufi, dzikir akan membuka tabir alam malakut, yakni dengan datangnya malaikat, menurul Al-Ghazali dzikir juga berfungsi untuk mendatangkan ilham.

 DAFTAR PUSTAKA



Abdul Qadir Isa, Hakekat Tasawuf, terj. Khairul Amru Harahap, Lc. Dan Afrizal Lubis, Lc. Qisthi Press, Jakarta, 2005.
Anwar Rosihon dkk, Ilmu Tasawuf, Penerbit: CV Pustaka Setia, Bandung, 2008.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar