Selasa, 11 Juni 2013

Sejarah Perkembangan Tasawuf Salafi (Akhlaqi ), Falsafi, Dan Syi,i



 

BAB 3
Sejarah Perkembangan Tasawuf Salafi (Akhlaqi ),
Falsafi, Dan Syi,i

Dalam sejarah perkembangannya, para ahli membagi tasawuf menjadi dua arah perkembangan. Ada tasawuf yang mengarah pada teori-teori prilaku; ada pula tasawuf yang mengarah pada teori-teori yang begitu rumit dan memerlukan pemahaman yang lebih mendalam.
A.    Sejarah Perkembangan Tasawuf Salafi (Akhlaqi)
Ajaran islam mereka dapat dipandang dari dua aspek, yaitu aspek lahiriah (seremonial) dan aspek batiniah (spiritual). tanggapan perenungan mereka lebih mereka berorientasi pada aspek dalam atau batiniah, yaitu cara hidup yang lebih mengutamakan rasa, lebih mementingkan keagungan tuhan dan bebas dari egoism.
Sejarah dan perkembangan tasawuf salafi mengalami beberapa fase berikut:
1.      Abad Kesatu Dan Kedua Hijriah
Disebut pula dengan fase asketisme (zuhud), fase asketisme ini tumbuh pada abad pertama dan kedua hijriyah. Tokoh yang terkenal dikalangan mereka adalah hasan al-bashri (meninggal pada 110 H)dan rabi’ah Al-Adawiyah ( meninggal pada 185 H)  dan kedua tokoh ini di juluki sebagai zahid.
2.      Abad Ketiga Hijriyah
Pada abad ini para sufi mulai menaruh perhatian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan jiwa dan tingkah laku. Pembahasan mereka tentang moral, akhirnya mendorongnya untuk semakin mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan akhlak. Perhatian mereka lebih tertuju pada realitas pengamalan islam dalam praktik yang lebih menekankan keterpujian prilaku manusia. Oleh karena itu ketika menyaksikan ketidakberesan prilaku disekitarnya, mereka menanamkan kembali akhlak mulia.
Pada abad ketiga terlihat perkembangan tasawuf yang pesat, ditnadai dengan adanya segolongan ahli tasawuf yang mencoba menyelidiki inti ajaran tasawuf yang berkembang masa itu. Mereka membaginya menjadi tiga macam, yaitu:
a.       Tasawuf yang berintikan ilmu jiwa
b.      Tasawuf yang berintikan ilmu akhlak
c.       Tasawuf yangberinikan metafisika

3.      Abad Keempat Hijriyah
Abad ini ditandai dengan kemajuan ilmu tasawuf yang lebih pesat dibandingkan pada abad ketiga. Usaha untuk mengembangkan ajaran tasawuf diluar kota Baghdad diplopori oleh beberapa ulama tasawuf yang terkenal kealimannya, antara lain:
a.       Musa Al-Ashary
b.      Abu Hamid Bin Muhammad Ar-Rubazy
c.       Abu Zaid Al-Adamy
d.      Abu Ali Muhammad Bin Abdil Wahhab As-Saqafy
Dalam pengajaran ilmu tasawuf diberbagi negri dan kota para ulama tersebut menggunakan system tarekat.sebagaimana yang dirintis oleh ulama tasawuf pendahulunya. Cirri-ciri lain yang terdapat pada abad ini ditandai dengan semakin kuatnya unsur filsafat yang mempengaruhi corak tasawuf. Pada abad ini pula mulai dijelaskannya perbebdaan ilmu zahir dan ilmu bathin yang dapat dibagi oleh ilmu tasawuf menjadi empat macam yaitu :
a.       Ilmu syariah
b.      Ilmu tariqah
c.       Ilmu haqiqah
d.      Ilmu ma’rifah

4.      Abad Kelima Hijriyah
Pada abad kelima ini muncul imam Al-Ghazali yang sepenuhnya menerima tasawuf yang berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah serta bertujuan asketisme. Tasawuf pada abad kelima hijriyah cenderung mengadakan pembaharuan yakni dengan mengembalikan ke landasan Al-Quran dan As-Sunnah. Dengan demikian abad kelima hijriyah merupakan tonggak yang menentukan bagi kejayaan tasawuf salafi (akhlak).
5.      Abad Keenam Hijriyah
Sejak abad keenam hijriyah sebagai akibat pengaruh keperibadian Al-Ghazali yang begitu besar, pengaruh tasawuf sunni semakin meeeluas keseluruh pelosok dunia islam. Al –Ghazali dipandang sebagai pembela terbesar tasawuf salafi (akhlak) namun dari se gi keperibadian, keluasan pengetahuan dan kedalaman tasawuf Al-Ghazali lebih besar dibandingkan semua para tokoh, dan Ia sering diklain sebagai seorang sufi terbesar dan terkuat pengaruhnya dalam khazanah ketasawufan didunia isalm.



B.     Sejarah Perkembangan Tasawuf Falsafi
Tasawuf ini disebut juga tasawuf nazhari, yaitu merupakan tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional sebagai pengasasnya. Jelas sekali bahwa adanya klasifikasi aliran tasawuf menjadi dua yaitu tasawuf sunni yang lebih berorientasi menampilkan pengokohan akhalk, dan taswuf falsafi yakni aliran yang menonjolkan pemikiran-pemikiran polosofis dengan ungkapan-ungkapan ganjilnya dalam ajaran-ajaran yang dikembangkannya. Tokoh pertama yang dapat dipandang sebagai tokoh taswuf adalah Ibn Masarrah.
C.    Sejarah Perkembangan Tasawuf Syi’i
Ada yang memasukan bahwa aliran ketiga yaitu tasawuf syi’I atau syi’ah. Pembagian aliran tasawuf ketiga ini didasarkan atas ketajaman pemahaman kaum sufi dalam menganalisis kedekatan manusia dengan tuhan. Golongan syi’ah merupakam golongan yang dinisbatkan kepada pengikut Ali bin Abi Thalib.
Oleh karena itu, perkembangan tasawuf syi’i dapat ditinjau melalui kecamata keterpengaruhan Persia oleh pemikiran-pemikiran filsafat yunani. Didalam tradisi syi’ah, dua aliran tasawuf (akhlak dan falsafi) juga diadopsi. Hal ini bias kita lihat jika tak terpengaruh oleh beberapa ungkapan tajam dan kadang –kadang mengejutkan dari para guru tasawuf ini dan merenungkan keseluruhan isi ajaran-ajaran mereka dengan tenang dan sabar.


 DAFTAR PUSTAKA



Abdul Qadir Isa, Hakekat Tasawuf, terj. Khairul Amru Harahap, Lc. Dan Afrizal Lubis, Lc. Qisthi Press, Jakarta, 2005.
Anwar Rosihon dkk, Ilmu Tasawuf, Penerbit: CV Pustaka Setia, Bandung, 2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar