Senin, 03 Juni 2013

STUDY KRITIS TERHADAP ALIRAN-ALIRAN TASAWUF


KATA PENGANTAR Penulisan makalah yang bersipat sederhana ini, di buat berdasarkan tugas kelompok yang di berikan oleh dosen pembimbing mata kuliah Materi tasawuf yang berjudul Studi kritis terhadap aliran-aliran taswuf. Dengan menucapkan syukur Alhamdulillah, kami semua dapat menyusun, menyesuaikan, serta dapat menyelesaikan sebuah makalah yang amat sederhana ini. Di samping itu, kami mengucapkan rasa terima kasih kepada semua pihak yan telah banyak membantu kami dalam menyelesaikan pembuatan sebuah makalah ini, baik dalam bentuk moril maupun dalam bentuk materi sehinggadapat terlaksana denan baik. Kami, sangat menyadari sepenuh nya bahwa makalah kami ini memang masih banyak terdapat kekurangan serta amat jauh dari kata kesempurnaan. Namun, kami semua telah berusaha semaksimal mungkin dalam membuat sebuah makalah ini. Di samping itu, kami sangat mengharapkan kritik serta saran nya dari semua rekan-rekan demi tercapai nya kesempurnaan yang di harapkan di masa akan datang. Muara Bungo,27 April 2013 Penulis , kelompok sepuluh. DAFTAR ISI KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………1 DAFTAR ISI………………………………………..…………………………………………2 BAB 1. PENDAHULUAN 1,1. Latar belakang………………………………………………………………...……3 1,2. Rumusan masalah……………………………………………………………..……4 1,3. Maksud dan tujuan …………………………………………..………………….....4 BAB 2. PEMBAHASAN 2,1. Kritik terhadap sumber tasawuf ………………………………………………..…5 2,2. Kritik Terhadap Tarekat ………………………………………………….……….5 2,3. Kritik Terhadap Tasawuf Falsafi………………………………………..…………7 2,4. Kritik Praktik Tasawuf Secara Umum………………………………..…………...8 BAB 3. PENUTUP 3,1. Kesimpulan…………………………………………………….…………………..9 3,2. Saran-saran………………………………………………………………….……10 DAPTAR PUSTAKA……………………………………………………………………..…11 BAB 1 Pendahuluan 1,1. Latar Belakang Realitas kehidupan manusia akhir-akhir ini apabila dicermati telah mengalami kejenuhan-kejenuhan yang pada tingkat tertentu mengakibatkan manusia mengambil tindakan yang oleh rasionalitas dianggap sangat mustahil. Ini terefleksi setidaknya dengan memperhatikan peristiwa bunuh diri massal atas nama agama serta fenomena kekerasan yang menjadi kecenderungan akhir-akhir ini. Dari kedua hal itu, bisa dipahami bahwa kehidupan kemanusiaan mengalami sebuah tantangan besar untuk mempertahankan eksistensinya. Tantangan tersebut bukanlah merupakan suatu ancaman, tetapi realitas yang harus disikapi dan dihadapi.Apabila diformulasikan tantangan kemanusiaan tersebut mengarah pada dua hal yaitu krisis modernitas dan krisis pemahaman agama. Tasawuf, yang di kalangan Barat dikenal dengan mistisme Islam, merupakan salah satu aspek (esosteris) Islam, sebagai perwujudan dari ihsan yang berati kesadaran adanya komunikasi dan dialog lansung seorang hamba dengan Tuhan-Nya. Esensi tasawuf sebenarnya telah ada sejak masa kehidupan Rosululloh SAW, namun tasawuf sebagai ilmu keislaman merupakan hasil kebudayaan Islam sebagaimana ilmu-ilmu keislaman lainnyaseperti fiqh dan ilmu tauhid.Oleh karena itu tasawuf―seperti halnya ilmu-ilmu lainya―tidak terlepas darikritikan-kritikandari berbagai golongan yang menentangnya. Serangan berulang-ulang ditujukan pada tasawuf dalam sejarah Islam memiliki banyak penyebab. Tidak sedikit diantara penyebabini berupa pengaruh sosial dan politik para guru sufi, yang sering mengancam kekuasaan serta hak-hak istimewa para ahli hokum dan bahkan penguasa. Walaupun otoritas-otoritas besar sufi telah meletakan banyak garis pemandu untuk menjaga agar tasawuf agar tepat berada dalam jantung tradisi Islam, gerakan keagamaan rakyat yang yang ditujukan untuk mengintensifkan pengalamam keagamaan dan mempunyai sedikit kepedulian terhadap norma-norma Islamjuga dikaitkan dengan tasawuf. Tak peduli apakah para anggota gerakan-gerakan ini menganggap diri mereka sufi ataukah tidak, yang jelas para penentang sufisme meras beruntung dapat mengklaim bahwa ekses-ekses yang ditimbukan oleh anggota gerakan tersebut mewakili sifat tasawuf . Otoritas-otoritas sufi sendiri sering mengkritik sufi yang keliru, dan bahaya-bahaya yang dihubungkan dengan ketiadaan kontak dengan intiahistoris sufisme hanya dapat meningkat manakala sebagian besar tasawuf kemudian terlembagakan melalui tarekat-terekat sufi. Menurut Sayyid Nur bin Sayyid Ali, kritik terhadap tasawuf berlatar belakang insiden jejak yang terjadi pada permulaan abad ke-4 H, ketika aliran-aliran kebatinan, Syi’ah, Qaramithah, dan kafir zindik memanfaatkan tarekat-tarekat sufisme. Mereka menyebabkan Islam berada pada kondisi yang berbahaya, tetapi sesungguhnya tak ada kelemahan bagi orang sufi. Kejadian itu Ialah Ibnu Saba’, orang berdarah Yahudi memanfaatkan cinta Ahl Al-Bait sebagai tipu daya. Dia menyebarkan benih fitnah dan perang sipil yang menyebabkan wafatnya Khalifah Utsman bin Affan r.a. dan gugurnya sekitar 10.000 orang sahabat dantabi’in sebagai syahid. Apakah peristiwa tersebut ada kelalaian Ahl Al-Bait dan kecintaan terhadap Ali r.a.? jawabannya tentu tidak. Demikian pula, paham tasawufvtidak boleh dicemari dengannya.Tasawuf taka da kaitannya dengan fitnah tersebut Pada permualaan abad ke-7 H, sekelompok kafir zindik dan ahli-ahli bid’ah menyelinap masuk kebarisan orang-orangberpaham sufi. Oleh karena itu, mereka menebarkan akidah-akidahsyirikndan perbuatan-perbuatanbid’ah atas nama perbuatan-perbuatan bid’ah atas nama agama, misalnya : 1,2. Rumusan Masalah Dalam penyusunan makalah ini penulis mengangkat sebuah masalah, yaitu : • Kritik benar dan salah terhadap aliran tasawuf. 1,3. Maksud dan Tujuan Sesuai dengan permasalahan di atas, tujuan umum yang akan dicapai adalah untuk mengungkap,Maksud dan tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui letak kebenaran dan kesalahan terhadap kritik-kritik yang ditujukan pada tasawuf. BAB 2 Pembahasan 2,1. Kritik Terhadap Sumber Tasawuf Para penentang tasawuf menganggap bahwa tasawuf bukan ajaran yang berasal dari Rosululloh dan bukan pula ilmu warisan dari para sahabat.Mereka menganggap bahwa ajaran tasawuf merupakan ajaran sesat dan menyesatkan yang diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi, dan zuhud Budha.Disamping itu, ada juga yang berpendapat bahwa tasawuf merupakan konspirasi yang tersusun rapi untuk menghancurkan Islam. Diantara tujuan terpenting konspirasi tersebut adalah: 1) menjauhkan kaum muslim dari Islam yang hakiki dan ajarannya suci murni dengan kedok Islam. 2) memasarkan akidah-akidah Yahudi, Kristen, sekte-sekte di India, dan sekte-sekte di Persia seperti agama Budha, agama Hindu, Zoroaster, Al-Manawiyah, Platonisme. Ibrahim bin Hilal mencoba memetakan pengaruh unsur lain, terutama filsafat Yunani, terhadap tasawuf aliran falsafi. Ia menegaskan bahwa sumber dan kata tasawuf, baik dari mazhab terdahulu maupun belakangan, berasal dari luar dan bukan dari Islam. 2,2. Kritik Terhadap Tarekat Di antara bentuk penyimpangan yang dialamatkan kepada tasawuf adalah menonjolkan kehidupan rohani dan mengabaikan kehidupan duniawi sehingga mengabaikan usaha (kerja). Di samping itu, ada bentuk penyimpangan yang lain seperti mengabaikan syariat dan perdukunan. Akibat penyimpangan-penyimpangan tersebut, timbullah kritik pedas terhadapnya.Kalangan pembaharu seperti Jamaluddin AL-Afgani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Rida memandang tarekat sebagai salah satu faktor penyebab kemunduran umat Islam. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah berkata, “…Kamu akan dapati mayoritas orang-orang ahli tasawuf menobatkan seseorang sebagai ‘wali’ hanya orang tersebut mampu menyingkap tabir dalam suatu masalah, atau orang tersebut melakukan sesuatu yang diluar kemampuan manusia, seperti menunjukan kepada seseorang kemudian orang itu mati, terbang diudara menuju mekah atau tempat lainnya, terkadang berjalan diatas air, mengisi teko dari udara dengan air sampai penuh, ketika ada orang yang meminta pertolongan kepadanya dari tempat yang jauh atau setelah dia mati, maka orang itu melihatnya dating dan menunaikan kebutuhannya, memberi tahu tempat barang-barang yang dicuri, memberikan hal-hal yang gaib (tidak tampak), atau orang yang sakit dan yang semisalnya. Padahal, kemampuan hal-hal ini sama sekali tidaklahmenunjukan bahwa pelakunya adalah wali Allah ‘Azza wa Jalla. Bahkan, orang-orang yang beriman dan bertakwa sepakat dan sependapat mengatakan bahwa jika ada orang yang mampu terbang di udara atau berjalan di atas air, kita tidak boleh terperdaya dengan penampilan tersebut sampai kita melihat apakah perbuatannya sesuai dengan sunnah Rosulullah SAW? Apakah orang tersebut selalu taat terhadap perintah beliau dan menjauhi larangannya?...karena hal-hal yang di luar kemampuan manusia ini bisa dilakukan oleh banyak orang kafir, musyrik, ahli kitab dan orang munafik, dan bisa dilakukan oleh para pelaku bid’ah dengan bantuan setan atau jin, sama sekali tidak boleh dianggap bahwa setiap orang yang mampu melakukan hal-hal di atas adalah wali Allah.” Sementara itu, Syekh Nawawi Banten menyampaikan kritiknya sebagai berikut: “Adapun orang-orang yang mengambil tarekat, jikalau perkataan dan perbuatan mereka itu mufakat pada syara’ Nabi Muhammad sebagaimana ahli-ahli tarekat yang benar, maka maqbul,dan jika tiada begitu, maka tentulah seperti yang telah banyak terjadi di dalam anak-anak murid Syekh Ismail Minangkabau. Maka bahwasanya mereka itu bercela akan dzikir Allah dengan (…) dan mereka itu bercela-cela akan orang yang tiada masuk dalam tarekat. Mereka itu hingga, bahwasanya akan mengikut bersembahyang padanya dan bercampur makan padanya dan mereka itu benci padanya istimewa pada bahwasanya Syekh Ismail itu hanyalah mengambil ia akan tarekat itu: asalnya karena mau jual agama dengan dunia adanya. Di sepanjang sejarah Islam memang terdapat kritikan tajam terhadap guru-guru dan organisasi-organisasi sufi. Salah satu contoh yang termasyhur adalah mistikus abad pertengahan, Al-Hallaj (w. 922), yang dihukum mati karena menyatakan persatuan mistisnya dengan Tuhan dengan cara ekstrim. Para penafsir Islam yang literitas dan legalis menentang praktik-praktik tarekat sufi karena dianggap menyediakan sarana bagi praktik-praktik dan keyakinan-keyakinan non-Islam. Pada abad ke-18, oposisi terkuat terhadap tarekat dating dari gerakan Wahhabiyah yang sedang berkembang. Pada era modern, para pembaru modern mengkritik keras tarekat karena mendorong dan memperkuat takhayul rakyat, dan kaum modernis Islam berupaya mengurangi pengaruh syekh-syekh sufi dalam masyarakat mereka. Oposisi kaum modernis semacam itu dapat dilihat dalam tindaka-tindakan kaum pembaru di seluruh dunia Islam. Dimana pun gerakan modernis Salafiyah — yang muncul melalui pikiran dan tindakan kaum ulama pada akhir abad ke-19, semisal Muhammad Abduh (w. 1905) di Mesir— mempunyai pengaruh, di situ terdapat oposisi yang kuat terhadap praktik-praktik pemujaan rakyat serta pengaruh tarekat-tarekat sufi. Hal ini dapat di lihat dari kegiatan dan ajaran ‘Abdullah ibn Idris As-Sanusi (w. 1931) di Maroko, Perhimpunan Ulama Aljazair yang dibentuk pada 1930-an, Muhammadiyah di Indonesia di sepanjang abad ke-20, gerakan Jadidiyah di wilayah Kekaisaran Rusia lama, serta di wilayah banyak lain. Selain itu, progam-progam reformasi yang lebih jelas terbaratkan berupaya menghapus pengaruh tarekat, sebagaimana dengan amat bait diilustrasikan dalam reformasi Musthafa Kemal Ataturk selama 1920-an dan 1930-an di republic baru Turki. Sisi lain dari tarekat yang menjadi sorotan adalah bahwa tarekat umumnya hanya berorientasi akhirat, tidak mementingkan dunia. Tarekat menganjurkan banyak beribadah dan jangan mengikuti dunia ini karena “Dunia ini adalah bangkai, yang mengejar dunia adalah anjing.”Ajaran ini “tampaknya” menyelewengkan umat Islam dari jalan yang harus ditempuhnya. Demikian juga, sifat tawakal, menuggu apa saja yang datang, qadha dan qadar yang sejalan dengan paham Asy’ariyah. Para pembaharu dalam dunia Islam melaihat bahwa tarekat bukan hanya mencermarkan paham tauhid, tapi juga membawa kemunduran bagi umat Islam. Bahkan, Schimmelmenyatakan bahwa tarekat-tarekat sufi yang muncul dari kebutuhan merohanikan Islam akhirnya menjadi unsure yang menyebabkan kemandegan orang-orang Islam. 2,3. Kritik Terhadap Tasawuf Falsafi Tasawuf falsafi diwakili para sufi yang memadukan tasawuf dengan filsafat, sebagaimana telah disebut di atas. Para sufiyang juga filosof ini mendapat banyak kecaman dari para fuqaha, yang justru semakin keras akibat pernyataan-pernyataanmereka yang panteistis. Di antara fuqaha yang paling keras kecamannya terhadap golongan sufi yang juga filosof ialah Ibn Taimiyah (meninggal pada tahun 728 H). Dari mulut sebagian sufi lahir beberapa syathahat, yaitu ungkapan dari isyarat-isyarat yang mereka sampaikan saat berada dalam keadaan mabuk ketuhanan dan lenyapnya kesadaran, yang makna-maknanya tidak jelas bagi orang yang belum mencapai kondisi rohani (ahwal) seperti mereka. Ungkapan-ungkapan itu barangkalikeluar dari batas etika-etika syara’, tidak pantas di hadapan Tuhan Yang Mahasuci, atau dari ungkapan-ungkapan itu merembes paham ateisme. Sikap kita terhadap syathahat-syathahat mereka itu tidak berbeda dengan sikap ulama salaf yang aneh. Dalam kaitan ini, Ibnu Qayyim berkata, “Ketahuilah bahwa dalam bahasa kaum sufi itu ada banyak metafora yang banyak dimiliki oleh bahasa kaum yang lainnya.Ada pengungkapan hal umum, tetapi yangdimaksud adalah hal yang khusus.Atau pengungkapan satu kata, namun yang dimaksud adalah indikasinya, bukan makna yang sebernarnya.Karena itu, mereka berkata, ‘Kami adalah para pemilik isyarat, bukan pemilik ungkapan.Isyarat bagi kami, sedang ungkapan bagi orang selain kami.’ Mereka (para sufi) terkadang mengungkapan satu frase yang diungkapan ulang oleh orang ateisme. Dengan frase itu, para sufi menghendaki suatu makna bukan kerusakan. Oleh karena itu, frase itu menjadi sebab timbulnya fitnah di antara dua kelompok. Satu kelompok bersandar kedapa whir frase, lalu menilai yang mengungkapkan frase itu ahli bid’ah dan menyesatkan. Sementara kelompok yang satu lagi memandang maksud-maksud dan tujuan dari orang-orang sufi, lalu membenrkan ungkapn dari isyarat-isyarat mereka itu. Maka orang yangmencari kebenaran (al-haqq) akan menerimanya dari orang ahli kebenaran, dan menolak dari bukan ahli kebeneran.” Ibn Nadim, berlandaskan sumber-sumber tertentu yang bertentangan, pada abad ke-10 berkata tentang Al-Hallaj: “Al-Husayn ibn Mansur Al-Hallaj adalah seorang penipu dan tukang sulap yang memberanikan diri masuk ke dalam pemikiran mazhabsufi, mempengaruhi gaya bahasa mereka. Ia menyatakan menguasai setiap bidang ilmu, tetapi pernyataan itu tidak berharga. Ia tahu sedikit tentang yang al-hikmah. Ia bodoh, berani, patuh, tetapi tidak gentar di hadapan sultan, berusaha melakukan hal-hal besar dan sungguh menginginkan suatu perubahan dalam pemerintah. Di antara para pengikutnya ia mengaku bersifat Ilahi, dan berbicara tentang penyatuan Ilahi…..” Diantara hal yang paling penting yang dituduhkan oleh orang-orang yang menentang kaum sufi adalah tuduhan yang bodoh dan palsu bahwa kaum sufi menyakini hulul dan ittihad. Artinya, Allah menduduki seluruh bagian bumi, baik di lautan, pegunungan bukit-bukit, pepohonan, manusia, hewan dan sebagainya.Dengan kata lain, makhluk adalah Khaliq itu sendiri. Semua yang dapat diraba dan dapat dilihat di alam imi merupakan Dzat Allah dan diri-Nya.Mahasuci Allah dari semua itu. Hulul dan ittihad tidak mungkin terjadi, kecuali dalam satu jenis.Allah buaknlah jenis sehingga Dia tidak bisa menyatu dengan jenis-jenis lainnya.Bagaimana yang Qadim menepati yang hadis, Khaliq menepati mahluk?Jika yang dimaksud dengan hulul adalah maksudnya ‘aradh (lawan dari esensi) ke dalam esensi, Allah bukanlah ‘aradh.Jika yang dimaksud adalah masuknya esensi ke dalam esensi, Allah bukanlah esensi.Jika hulul dan ittihad antara dua mahluk adalah sesuatu yang mustahil —tidak mungkin dua orang laki-laki menjadi satu orang laki-laki karena perbedaan zat keduanya— perbedaan antara Khaliq dan mahluk, antara Pembuat dan yang dibuat, dan antara Dzat yang wajib ada dan sesuatu yang mungkin, lebih besar dan lebih utama lagi. Para ulama dan para sufi yang tulus terus berusaha menjelaskan kesalahan pendapat tentang hulul dan ittihad, menunjukan kerusakannya, dan memperingatkan kesesatannya. Dalam Al-‘Aqidah Ash-Shughra, Syekh Muhyiddin ibn Arabi berkata, “Mahatinggi Allah dari menepati yang hadis, atau yang hadis menempati-Nya.” Dalam bab “Al-Asrar”, ia berkata, “Seorang ahli makrifat tidak boleh berkata, ‘Aku adalah Allah,’ sekalipun dia sampai pada kedekatan yang paling tinggi. Seorang ahli makrifat harus menjauhi perkataan seperti ini.Hendaknya dia berkata, ‘Aku adalah hamba yang hina dalam perjalanan menuju Engkau’.” Dalam bab ke-169, ia berkata, “Barang siapa yang berkata tentang hulul, berate dia itu sakit. Mengaku berkata tentang ittihad, kecuali orang murtad, sebagaimana orang yang berkata tentang hulul adalah orang yang bodoh dan berlebih-lebihan.” Dalam bab yang sama,ia berkata, “Yang hadis tidak akan terlepas dari sifat-sifat mahluk. Jika yang Qadim menepatinya, benarlah perkataan ahli tajsim.Jadi, yang Qadim tidak menepati dan tidak menjadi tempat.” 2,4. Kritik Praktik Tasawuf Secara Umum Pembaharuan tasawuf Al-Ghazali, yaitu upayanya menehan gerakan yang wakatnya melebih-lebihkan itu tidak berhasil, walaupun pengaruhnya luar biasa.Gerakan mistisme menjadi sulit dikendalikan dan tidak dominan lagi.Umat mengalami kemunduran yang selama dua abad terakhir ini mereka berupaya keras mengatasi kemunduran ini. Ahli-ahli tetap mendisiplinkan manusia untuk mematuhi Tuhan dan menjalankan syariat, memperdalam komitmennya terhadap Islam dan menyucikan serta mengangkat jiwanya pada jalan kebenaran, tasawuf menjadi penyakit yang menyebabkan atau bahkan memperburuk gejala-gejala berikut: 1. Kasyf (pencerahan genostik) menggantikan pengetahuan. Di bawah tasawuf, dunia muslimmeninggalkan komitmennya untuk mencari pengetahuan ilmiah yang rasional, dengan upaya mendapatkan visi pengalaman mistis. Kaum muslim mengabaikan pertimbangan dan pembuktian secara kritis dari berbagai alternatif terhadap pernyataan esoterik, amalan, dan otoritarian dari syekh (pemimpin) sufi. Bila sikap pikiran terhadap realitas berubah dan cenderung subjektif-esoteris mengambil alih, semua ilmu pengetahuan akan tersingkir. Bila manusia percaya kebenaran dapat diperoleh pengetahuan kritis, rasional, dan empiris akan padam. Pada waktunya, matematika, tercampur aduk dengan numerologi, astronomi, dengan astrologi, kimia dengan alkemi, dan pada umumnya, rekayasa alam dengan sihir. 2. Karamah (mukjizat kecil), yang diajarkan tasawuf hanya mungkin dalam keadaan pernyatuan atau komuni dengan Tuhan. Karamah yang dibenarkan tasawuf sebagai anugerah yang dilimpahkan Tuhan kepada orang yang sangat saleh, merusak perhatian muslim terhadap hubungan sebab-akibat alamiah dan mengajarkannya untuk mencapai hasil melalui metode konduksi spiritualistic. Menurut pemikiran, hubungan alamiah sebab dengan akibat, sarana dengan tujuan, dihancurkan dan digantikan oleh hubungan denganguru sufi yang mampu menampakan karamah untuknya. 3. Taabbud, kerelaan untuk meninggalkan aktivitas sosial dan ekonomi untuk melakukan ibadah spiritulistik sepenuhnya, dan komitmen untuk mencurahkan segenap energi untuk berdzikir menjadi tujuan utama. Sebenarnaya, Islam memerintakan pelaksanaan lima rukun Islam, tetapi Islam memerintahkan juga pelaksanaan khilafah dan amanat Tuhan. 4. Tawakal, kepasrahan total pada faktor spiritual untuk menghasilkan hasil-hasil empiris, menggantikan keyakinan muslim terhadap kemujaraban yang pasti dari hokum Tuhan dalam alam dan dari keharusan mutlak campur tangan manusia kedalam rangkaian (nexus) sebab-akibat alam, jika tujuan yang diproyeksikannya akan direalisasikan. 5. Qismat, penyetujuan secara sembunyi-sembunyi dan pasif terhadap hasil tindakan kekuatan di alam yang berubah-ubah mengantikan taklif, atau kewajiban manusia untuk merajut, memotong, dan membentuk ulang ruang-waktu untuk merealisasikan pola Ilahiyah di dalamnya. Bukannya Amanah, atau asumsi manusia terhadap maksud Ilahiyah untuk ruang-waktu sebagai alasan keberadaan pribadinya sendiri, tasawuf justru mengajarkan jalan pintas melalui dzikir dan memperbesar harapan untuk memanipulasi kekuatan adialam, yang membuka pintu bagi sihir, azimat, dan klenik. 6. Fana’ dan Adam, bukan realitas, efemeralitas dan ketidakpentingan dunia, mengantikan keseriusan muslim menyangkut eksistensi. Ini menutupi kesadaran muslim akan status kosmisnya sebagai satu-satunya jembatan untuk merealisasikan kehendak Tuhan sebagai nilai moral dalam ruang dan waktu. Taswuf mengajarkan bahwa hidup didunia tak lain hanyalah perjalanan singkat menuju alam baka. Bertentangan dengan prinsip Islam bahwa realisasi akhir dari kemutlakan dalam ruang-waktu bukan satu-satunya kemungkinan pasti, melainkan tugas mulia manusia,tasawuf justru bahwa dunia bukanlah teater seperti itu, bahwa realisasi alam baka. Seperti kata Al-Ghazali, realisasi ini menepatkan dunia di luar akal dan pikiran waras. 7. Taat, kepatuhan mutlak dan total kepada syekh dari salah satu tarekat sufi menggantikan tauhid, pengakuan bahwa tak ada Tuhan, kecuali Allah. Pencapaian pengalaman mistis meniadakan syariat atau pelaksanaan kewajiban sehari-hari dan kewajiban seumur hidup. Ini, bersama metafisika panteistik tasawuf, mengaburkan semua gagasan etika Islam. Gejala-gejala ini merusak kesehatan masyarakat muslim selama paruh masa seribu tahun, sejak jatuhnya Baghdad ke tangan kaum Tatar pada 655/1257 sampai munculnya Wahhabiyah, gerakan pembaharuan antisufi pertama, pada 1159/1747. Di bawah pesona sufi, orang Muslim menjadi apolitis, asocial, amiliter, anetika, dan tidak produktif. Mereka tidak peduli umat (persaudaraan dunia di bawah hukum moral), menjadi individualis, dan menjadi egois yang tujuan utamanya adalah keselamatan diri, terserap dalam keagungan Tuhan.Dia tak bergeming dengan kesengsaraan, kemiskinan, dan keberataan masyarakat sendiri, serta nasib umat dalam sejarah. BAB 3 Penutup 3,1. Kesimpulan Dari uraian diatas bahwa tasawuf merupakan kebudayaan Islam, namun dengan perubahan zaman tasawuf banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan. Ini merupakan aspek gejala sosial yang berbahaya bagi para muslim didunia. Sehingga menimbulkan kritik terhadap tasawuf yang berlatar belakang insiden jejak yang terjadi pada permulaan abad ke-4 H, ketika aliran-aliran kebatinan, Syi’ah, Qaramithah, dan kafir zindik memanfaatkan tarekat-tarekat sufisme. Mereka menyebabkan Islam berada pada kondisi yang berbahaya, tetapi sesungguhnya tak ada kelemahan bagi orang sufi. Kejadian itu Ialah Ibnu Saba’, orang berdarah Yahudi memanfaatkan cinta Ahl Al-Bait sebagai tipu daya. Dia menyebarkan benih fitnah dan perang sipil yang menyebabkan wafatnya Khalifah Utsman bin Affan r.a. dan gugurnya sekitar 10.000 orang sahabat dantabi’in sebagai syahid. Apakah peristiwa tersebut ada kelalaian Ahl Al-Bait dan kecintaan terhadap Ali r.a.? jawabannya tentu tidak. Demikian pula, paham tasawufvtidak boleh dicemari dengannya.Tasawuf taka da kaitannya dengan fitnah tersebut. 3,2. Saran-saran Sebagai penutup dari makalah ini, tak luput pula kami ucapkan ribuan terima kasih pada semua rekan-rekan yang telah banyak membantu dalam pembuatan makalah ini. Di samping itu, masih banyak kekurangan serta jauh dari kata kesempurnaan, tetapi kami semua telah berusaha semaksimal munkin dalam pembutan makalah yang amat sederhana ini. Maka, dari pada itu . kami semua sangat berharap kepada semua rekan-rekan untuk memberi kritik atau sarannya, sehingga dalam pembuatan makalah selanjutnya bisa menjadi yan lebih baik, seperti yang kita harapkan. Tiada kata yan dapat kami ucapkan, selain rasa terima kasih atas semua motivasi dari rekan-rekan sekalian. Rantau Embacang, 29 April 2013 Wassalam penulis, kelompok 10 DAFTAR PUSTAKA Abdul Qadir Isa, Hakekat Tasawuf, terj. Khairul Amru Harahap, Lc. Dan Afrizal Lubis, Lc. Qisthi Press, Jakarta, 2005. Anwar Rosihon dkk, Ilmu Tasawuf, Penerbit: CV Pustaka Setia, Bandung, 2008. Hal 227

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar