Selasa, 11 Juni 2013

TASAWUF AKHLAQI

BAB 6
TASAWUF AKHLAQI

A.    Ajaran Tasawuf Akhlaqi
Bagian terpenting dari tujuan tasawuf adalah memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan, sehingga merasa sadar berada di “ hadirat “ tuhan. Semua seufi berpendapat bahwa satu-satunya jalan yang dapat menghantarkan seseorang kehadirat Allah hanyalah dengan kesucian jiwa. Para sufi berpendapat bahwa untuk merehabilitas siakp mental yang tidak baik diperlukan terapi yang tidak hanya dari aspek lahiriah.
Dalam tasawuf akhlaqi, system pembinaan akhlak di susun sebagai berikut.
1.      Takhalli yaitu merupakan langkah pertama yang harus dijalani oleh orang sufi.
2.      Tahalli adalah upaya atau menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sikap, prilaku, dan akhlak terpuji. Sikap mental dan perbuatan baik yang sangat penting diisikan kedalam jiwa manusia dan dibiasakan dalam perbuatan dalam rangka pembentukan manusia paripurna, antara lain sebgai berikut:
a.       Tobat
b.      Cemas dan harap ( Khauf dan Raja’)
c.       Zuhud
d.      Al-Faqr
e.       Ash-Shabru
f.       Rida
g.      Muraqabah
3.      Tajalli
Kata tajalli bermakna terungkapnya nur ghaib. Agar hasil yang diperoleh jiwa dan organ-organ tubuh yang telah terisi dengan butir-butir mutiara akhlak dan terbiasa melakukan perbuatan luhur tidak berkurang, rasa ketuhanan perlu dihayati lebih lanjut.
B.     Tasawuf Akhlaqi Dan Karakteristiknya
Adapun cirri-ciri tasawuf akhlaqi antara lain :
1.      Melandasakan diri pada Al-Quran dan As-Sunnah.
2.      Tidak menggunakan teminologi-terminologi filsafat sebagaimana terdapat pada ungkapan-ungkapan syathahat.
3.      Lebih bersifat mengajarkan dualisme dalam hubungan antara manusia dan manusia.
4.      Kesinambungan anatara hakikat dengan syariat.
Lebih terkonsentrasi pada soal pembinaan, pendidikan akhlak dan pengobatan jiwa dengan cara riya’dhah (latihan mental) dan langkah takhalli,tahalli, dan tajalli.

C.    Tokoh-Tokoh Tasawuf Akhlaqi
1.      Hasan Al-Bashri (21-110 H)
2.      Al-Muhasibi (165-243 H)
3.      Al-Qusyairi (376-465 H)
4.      Al-Ghazali (450-505 H)
a.       Ajaran Tasawuf Al-Ghazali
1.      Marifat
2.      As-Sa’adah

 DAFTAR PUSTAKA



Abdul Qadir Isa, Hakekat Tasawuf, terj. Khairul Amru Harahap, Lc. Dan Afrizal Lubis, Lc. Qisthi Press, Jakarta, 2005.
Anwar Rosihon dkk, Ilmu Tasawuf, Penerbit: CV Pustaka Setia, Bandung, 2008.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar