Jumat, 22 November 2013

ISLAM DI ANDALUSIA: SEJARAH PEMBENTUKAN, KEMAJUAN DAN KEMUNDURAN

ISLAM DI ANDALUSIA:
SEJARAH PEMBENTUKAN, KEMAJUAN DAN KEMUNDURAN

Makalah disusun untuk memenuhi tugas pada mata kuliah
Sejarah Peradaban Islam (SPI)


Oleh:
NIM: 212-3320






PROGRAM STRATA SATU (S1)                                                 
    SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) YAYASAN NURUL ISLAMI (YASNI)       
MUARA  BUNGO
TAHUN AKADEMIK 2013/2014





A.  PENDAHULUAN
 Kehadiran orang-orang Islam di Spanyol merupakan awal munculnya Islam di benua Eropa karena Spanyol merupakan pintu gerbang bagi benua tersebut. Sebagaimana diinformasikan dalam buku-buku sejarah, ekspansi Islam ke Wilayah Barat (dalam hal ini benua Eropa bagian Barat) terjadi pada masa kekhilafahan Bani Umayyah dengan khalifah (pemimpin) AI-Walid bin Abdul Malik.
Ketika Islam mencapai masa keemasannya, Andalusia merupakan pusat peradaan Islam yang sangat penting, menyaingi Baghdad di Timur. Ketika itu orang-orang  Eropa Kristen banyak belajar di perguruan-perguruan tinggi Islam di Andalusia. Dalam perjalanannya di Andalusia, Islam membawa aneka warna sejarah. Islam kali pertama berhasil menanamkan kesuksesan atas penaklukan negeri tersebut, disusul dengan datangnya kaum al-Murabitun dan al-Muwahhidun, yang berhasil menggalang persatuan umat Islam, hingga umat Islam menemui masa suram dan masa kemundurannya.
Islam telah menjadi “guru” bagi orang-orang Eropa pasca masuknya Islam di Andalusia. Karena itu tidak heran kalau kehadiran Islam di Andalusia banyak menarik perhatian para sejarawan. Berbicara tentang kejayaan Islam di Andalusia bukan berarti berpikir mundur ke belakang, tetapi agar generasi Islam dapat mengambil ‘ibroh dari apa yang pernah terjadi di Andalusia, baik sisi positif maupun negatif.
Dalam makalah sederhana ini, penulis berusaha untuk memaparkan tentang sejarah Islam di Andalusia yang terbagi dalam tiga bahasan utama, yaitu sejarah masuknya Islam di Andalusia sehingga terbentuknya kekuasaan Islam di sana, kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh Islam di Andalusia serta kemundurannya sehingga hanya tersisa dalam lembaran-lembaran sejarah. Penulisan makalah ini berdasar atas apa yang telah ditulis oleh para penulis-penulis sebelumnya dalam berbagai buku maupun lembaran-lembaran lainnya.



B.  ANDALUSIA SEBELUM ISLAM
Andalusia (Andalus) merupakan nama Arab untuk jazirah Iberia yang pada masa sekarang dikenal sebagai Spanyol dan Portugis. Andalusy aslinya adalah kata dalam Bahasa Arab untuk menyebut kaum Vandal, dan dengan mengganti huruf terakhir, dari syin menjadi sin, kata ini berubah menjadi Andalus.[1]
Sekitar dua abad sebelum masehi hingga awal abad ke lima, Spanyol berada di bawah imperium Romawi. Sejak tahun 406 M, Spanyol dikuasai oleh bangsa Vandal, yaitu bangsa yang berimigrasi dari negeri asal mereka, suatu daerah yang terletak diantara sungai Oder dan Vistuala. Penguasa daerah ini mendirikan kerajaan di propinsi wilayah Chartage. Kekuasaan Vandal ini kemudian diambil alih oleh orang-orang Gothic. Tak lama kemudian, dinasti merovingian dari kerajaan Frank merebutnya dari orang-orang Gothic, maka didirikanlah kerajaan Visigoth, yang wilayah itu dikenal dengan Vandalusia. Dan setelah kedatangan orang-orang Islam pada tahun 92H/711 M, sebutan Vandalusia diubah menjadi Andalusia atau al-Andalus.
Sejarah lain mencatat bahwa sebelum Islam masuk ke Spanyol, sekitar abad ke 5 Masehi, bangsa Jerman mendatangi Semenanjung Iberia. Theodoric, Raja Ostogoth, mendirikan istananya di Toledo sekitar tahun 513 M. kemudian pada tahun 569 M, Leovigildo, seorang raja Visigoth, menjadikan Toledo mengalami kejayaannya yang petama. Pada tahun 689 M, Raja Rcaredo menjadikan katolik sebagai agama resmi di Spanyol.[2]
Dikatakan juga bahwa beberapa keluarga bangsawan Yahudi paling terhormat pindah dari Palestina ke Andalusia dalam rangka melarikan diri dari serbuan tentara Raja Nebuchadnezzat yang menginvansi kerajaan kuno Jadah dan menghancurkan Kuil Sulayman di Yerussalem pada 586 SM. Bangsa Yunani dan Romawi juga mendiami Andalusia, dan menjadi makmur di sana, sebab pada waktu itu Andalusia merupakan tempat yang memiliki cadangan emas dan perak berkilauan yang melimpah.[3]
1. Perkembangan Politik
Pada awalnya, Al-Andalus dikuasai oleh seorang wali Yusuf Al-Fihri (gubernur) yang ditunjuk oleh Khalifah di Damaskus, dengan masa jabatan biasanya 3 tahun. Namun pada tahun 740an M, terjadi perang saudara yang menyebabkan melemahnya kekuasaan Khalifah. Dan pada tahun 746 M, Yusuf Al-Fihri memenangkan perang saudara tersebut, menjadi seorang penguasa yang tidak terikat kepada pemerintahan di Damaskus.
Pada tahun 750 M, bani Abbasiyah menjatuhkan pemerintahan Umayyah di Damaskus, dan merebut kekuasaan atas daerah-daerah Arabia. Namun pada tahun 756 M, Abdurrahman I (Ad-Dakhil) melengserkan Yusuf Al-Fihri, dan menjadi penguasa Kordoba dengan gelar Amir Kordoba. Abdurrahman menolak untuk tunduk kepada kekhalifahan Abbasiyah yang baru terbentuk, karena pasukan Abbasiyah telah membunuh sebagian besar keluarganya.
Ia memerintah selama 30 tahun, namun memiliki kekuasaan yang lemah di Al-Andalus dan ia berusaha menekan perlawanan dari pendukung Al-Fihri maupun khalifah Abbasiyah.
Selama satu setengah abad berikutnya, keturunannya menggantikannya sebagai Amir Kordoba, yang memiliki kekuasaan tertulis atas seluruh Al-Andalus bahkan kadang-kadang meliputi Afrika Utara bagian barat. Pada kenyataannya, kekuasaan Amir Kordoba, terutama di daerah yang berbatasan dengan kaum Kristen, sering mengalami naik-turun politik, itu tergantung kecakapan dari sang Amir yang sedang berkuasa. Amir Abdullah bin Muhammad bahkan hanya memiliki kekuasaan atas Kordoba saja.
Cucu Abdullah, Abdurrahman III, menggantikannya pada tahun 912 M, dan dengan cepat mengembalikan kekuasaan Umayyah atas Al-Andalus dan bahkan Afrika Utara bagian barat. Pada tahun 929 M ia mengangkat dirinya sebagai Khalifah, sehingga keamiran ini sekarang memiliki kedudukan setara dengan kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad dan kekhalifahan Syi'ah di Tunis.



2.    Masa Kekhalifahan
Andalusia - Spanyol diduduki umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid Rahimahullah (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, dimana Ummat Islam sebelumnya telah mengusasi Afrika Utara. Dalam proses penaklukan Spanyol ini terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa yaitu Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair Rahimahullahum ajma’in.
Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada di antara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang, lima ratus orang diantaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian.
Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Visigothic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa ibn Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke spanyol sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad Rahimahullah.
Thariq ibn Ziyad Rahimahullah lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair Rahimahullah dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid Rahimahullah. Pasukan itu kemudian menyeberangi Selat di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad Rahimahullah. Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq).
Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq Rahimahullah dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada dan Toledo (ibu kota kerajaan Gothik saat itu).
Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq ibn Ziyad Rahimahullah membuat jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Untuk itu, Musa ibn Nushair Rahimahullah merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq. Dengan suatu pasukan yang besar, ia berangkat menyeberangi selat itu, dan satu persatu kota yang dilewatinya dapat ditaklukkannya. Setelah Musa Rahimahullah berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Gothic, Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari Saragosa sampai Navarre.
Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz Rahimahullah tahun 99 H/717 M. Kali ini sasaran ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada Al-Samah Rahimahullah, tetapi usahanya itu gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun 102 H. Selanjutnya, pimpinan pasukan diserahkan kepada Abdurrahman ibn Abdullah al-Ghafiqi Rahimahullah. Dengan pasukannya, ia menyerang kota Bordreu, Poiter, dan dari sini ia mencoba menyerang kota Tours. Akan tetapi, diantara kota Poiter dan Tours itu ia ditahan oleh Charles Martel, sehingga penyerangan ke Perancis gagal dan tentara yang dipimpinnya mundur kembali ke Spanyol.
Sesudah itu, masih juga terdapat penyerangan-penyerangan, seperti ke Avirignon tahun 734 M, ke Lyon tahun 743 M, dan pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah, Majorca, Corsia, Sardinia, Creta, Rhodes, Cyprus dan sebagian dari Sicilia juga jatuh ke tangan Islam di zaman Bani Umayah. Gelombang kedua terbesar dari penyerbuan kaum Muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke-8 M ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh menjangkau Perancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia. Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal yang menguntungkan.
Faktor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat di dalam negeri Spanyol sendiri. Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan menyedihkan. Secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi ke dalam beberapa negeri kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Gothic bersikap tidak toleran terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran Monofisit, apalagi terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut agama Kristen. Yang tidak bersedia disiksa, dan dibunuh secara brutal.
Rakyat dibagi-bagi ke dalam sistem kelas, sehingga keadaannya diliputi oleh kemelaratan, ketertindasan, dan ketiadaan persamaan hak. Di dalam situasi seperti itu, kaum tertindas menanti kedatangan juru pembebas, dan juru pembebasnya mereka temukan dari orang Islam. Berkenaan dengan itu Amer Ali, seperti dikutip oleh Imamuddin mengatakan, ketika Afrika (Timur dan Barat) menikmati kenyamanan dalam segi material, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan, tetangganya di jazirah Spanyol berada dalam keadaan menyedihkan di bawah kekuasaan tangan besi penguasa Visighotic. Di sisi lain, kerajaan berada dalam kemelut yang membawa akibat pada penderitaan masyarakat. Akibat perlakuan yang keji, koloni-koloni Yahudi yang penting menjadi tempat-tempat perlawanan dan pemberontakkan. Perpecahan dalam negeri Spanyol ini banyak membantu keberhasilan campur tangan Islam di tahun 711 M. Perpecahan itu amat banyak coraknya, dan sudah ada jauh sebelum kerajaan Gothic berdiri.
Perpecahan politik memperburuk keadaan ekonomi masyarakat. Ketika Islam masuk ke Spanyol, ekonomi masyarakat dalam keadaan lumpuh. Padahal, sewaktu Spanyol masih berada di bawah pemerintahan Romawi (Byzantine), berkat kesuburan tanahnya, pertanian maju pesat. Demikian juga pertambangan, industri dan perdagangan karena didukung oleh sarana transportasi yang baik. Akan tetapi, setelah Spanyol berada di bawah kekuasaan kerajaan Goth, perekonomian lumpuh dan kesejahteraan masyarakat menurun. Hektaran tanah dibiarkan terlantar tanpa digarap, beberapa pabrik ditutup, dan antara satu daerah dan daerah lain sulit dilalui akibat jalan-jalan tidak mendapat perawatan.
Buruknya kondisi sosial, ekonomi, dan keagamaan tersebut terutama disebabkan oleh keadaan politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderick, Raja Goth terakhir yang dikalahkan Islam. Awal kehancuran kerajaan Ghoth adalah ketika Raja Roderick memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementara Witiza, yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo, diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah dari Oppas dan Achila, kakak dan anak Witiza. Keduanya kemudian bangkit menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Roderick. Mereka pergi ke Afrika Utara dan bergabung dengan kaum muslimin.
Sementara itu terjadi pula konflik antara Roderick dengan Ratu Julian, mantan penguasa wilayah Septah. Julian juga bergabung dengan kaum Muslimin di Afrika Utara dan mendukung usaha umat Islam untuk menguasai Spanyol, Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal yang dipakai oleh Tharif, Tariq dan Musa Rahimahumullah. Hal menguntungkan tentara Islam lainnya adalah bahwa tentara Roderick yang terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang Selain itu, orang Yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan bagi perjuangan kaum Muslimin.
Adapun yang dimaksud dengan faktor internal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokon-tokoh pejuang dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu, dan penuh percaya diri. Mereka pun cakap, berani, dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan, dan tolong menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.

3. Perkembangan Peradaban
Umat Islam di Spanyol telah mencapai kejayaan yang gemilang, banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan juga dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks, terutama dalam hal kemajuan intelektual.
Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya di sana. Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa, dan kemudian membawa dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks.

4. Kemajuan Intelektual
Spanyol adalah negeri yang subur. Kesuburan itu mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya banyak menghasilkan pemikir.
Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari :
a.       Komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan)
b.      Al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam)
c.       Barbar (umat Islam yang berasal dari Afrika Utara)
d.      Al-Shaqalibah (tentara bayaran yang dijual Jerman kepada penguasa Islam)
e.       Yahudi
f.       Kristen Muzareb yang berbudaya Arab
g.      Kristen yang masih menentang kehadiran Islam
Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan Kebangkitan Ilmiah, sastra, dan pembangunan fisik di Andalusia - Spanyol.

C.  SEJARAH MASUKNYA ISLAM KE ANDALUSIA
Umat Islam mulai menaklukkan Semenanjung Iberia pada zaman Khalifah Al-Walid Ibn Abd Al-Malik (86-96 H/705-715 M).[4] sebelum menaklukkan Spanyol, umat Islam terlebih dahulu menguasai Afrika Utara dan menjadikannya salah satu provinsi dari dinasti Bani Umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara terjadi pada zaman Khalifah Abdul Malik (865-705 M). Tampaknya, tujuan umat Islam menguasai Afrika Utara adalah membuka jalan untuk mengadakan ekspedisi lebih besar ke Spanyol karena dari Afrika Utara itulah, ekspedisi ke Spanyol lebih mudah dilakukan.
Ekspansi umat Islam ke Spanyol terjadi pada masa Al-Walid menjabat khalifah (705-715 M). Al-Walid mengizinkan gubernurnya untuk mengirim pasukan militer ke Spanyol. Musa bin Nusyair menugaskan Thariq bin Ziyad untuk memimpin pasukan tentara sebanyak 7.000 orang. Tentara tersebut sebagian besar terdiri atas orang Barbar. Pada tahun 711 M, Thariq berlayar melalui laut tengah menuju daratan Spanyol dan berhasil mendarat di sebuah bukit yang kemudian diberi nama Gibraltar (Jabal Thariq).
Ketika Roderick mengetahui bahwa Thariq dengan pasukannya telah memasuki negeri Spanyol, ia mengumpulkan pasukan penangkal sejumlah 25.000 tentara. Menyadari jumlah musuh yang jauh berbeda, Thariq bin Ziyad meminta bantuan kepada Musa bin Nusyair, akhirnya Thariq mendapat tambahan pasukan sebanyak 12.000 tentara.
Pada hari minggu tanggal 18 Juli 711 M, kedua pasukan bertemu di Danau  Janda dekat mulut sungai Barbate. Pertemuan berlangsung selama 8 hari dan kemenangan berada di pihak Thariq. Tentara Thariq dalam pertempuran ini mendapat bantuan dari pasukan Roderick yang membelot. Thariq kemudian meneruskan penaklukan ke Toledo. Kemudian Archidona dan Granada dapat ditundukkan, dan satu detasemen yang dipimpin Mughit Ar-Rumi dapat menaklukkan kota Cordova yang kemudian dijadikan ibukota pemerintahan Islam.[5]  
            Kedatangan Islam sudah tentu membawa kultur baru yang memperkaya Spanyol pada umumnya. Oleh karena itu, akhirnya Spanyol (Andalusia) menjadi salah satu pusat peradaban dunia, mengimbangi kejayaan Dinasti Umayyah di Damsyik (Damaskus) dan Dinasti Abbasiyyah di Baghdad. Tidak salah apabila dikatakan Andalusia turut berperan merintis jalan menuju zaman Renaisans di Eropa.
            Setelah Spanyol dan kota-kota pentingnya jatuh ke tangan umat Islam, sejak saat itu secara politik Spanyol berada di bawah kekuasaan khalifah Bani Umayyah. Dan untuk memimpin wilayah baru tersebut, pemerintah pusat yang berpusat di Damaskus mengangkat seorang wali (gubernur).

D. ANDALUSIA DI BAWAH KEKUASAAN DINASTI UMAYYAH
Badri Yatim dalam bukunya Sejarah Peradaban Islam, membagi kekuasaan dinasti Bani Umayyah di Andalusia dalam tiga periode, yaitu:[6]

1.    Periode Pertama (711 – 755 M)
Pada pemerintahan ini, Andalusia berada dibawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Ummayah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Andalusia belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi, baik datang dari dalam maupun dari luar. Gangguan yang datang dari dalam antara lain berupa perselisihan diantara elite penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Disamping itu, terdapat perbedaan pandangan antara khalifah di Damaskus dan Gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Masing-masing mengaku bahwa merekalah yang paling berhak menguasai daerah Andalusia. Karena itu terjadi dua puluh kali pergantian wali (Gubernur) Andalusia dalam waktu yang amat singkat. Sementara gangguan yang datang dari luar yaitu sisa-sisa musuh Islam di Andalusia yang yang bertempat tinggal di pegunungan yang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam gerakan ini terus memperkuat diri. Setelah berjuang lebih dari 500 tahun, akhirnya mereka mampu mengusir Islam di bumi Andalusia, maka dalam periode ini Islam belum memasuki kegiatan pembangunan dibidang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abdul Rahman Al – Dakhil ke Andalusia (138 H atau 755 M).


2.    Periode Kedua (755 – 912 M)
Periode ini, Andalusia diperintah oleh seorang Amir (panglima atau Gubernur) tetapi tidak tunduk pada pusat pemerintahan Islam, yang ketika itu  dipegang oleh Khalifah Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Abdur Rahman I diberi gelar Al–Dakhil. Dia adalah keturunan Bani Ummayah. Penguasa–penguasa Andalusia pada periode ini adalah  Abdul Al–Rahman Al– Aushat, Muhammad Ibn Abd Al–Rahman, Munzir Ibn Muhammad dan Abdullah Ibn Muhammad. Pada periode ini Andalusia sudah mulai maju baik dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban, dengan mendirikan mesjid dan sekolah-sekolah, Hisyam dikenal berjasa menegakkan hukum Islam dan Hakam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran. Sedangkan Abdul Rahman Al–Aushat dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu.

3.    Periode Ketiga (912 – 1013 M)
Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abdul Rahman III yang bergelar “ An– Nasir “ sampai munculnya “ raja-raja kelompok “ yang dikenal sebagai Muluk Al –Thawaif. Pada periode ini Andalusia diperintah oleh penguasa dengan gelar Khalifah, penggunaan gelar khalifah ini beradasarkan atas berita bahwa khalifah Al – Muqtadir daulah Bani Abbas di Baghdad meninggal dunia. Menurutnya keadaan ini saat yang paling tepat untuk memakai gelar khalifah yang telah selama 150 tahun lebih dan dipakai lagi mulai tahun 929 M. khalifah – khalifah besar yang memerintah pada periode ini ada tiga orang yaitu : Abdul Al – Rahman Al – Nasir (912 – 916 M), Hakam II ( 961 – 976 M ), dan Hisyam II ( 976 – 1009 M ).
Pada periode ini umat Islam mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi kejayaan daulah di Baghdad. Abdul Al–Rahman Al– Nasir mendirikan Universitas Cordova. Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga seorang kolektor buku dan pendiri pustaka. Selanjutnya Hisyam naik tahta dalam umur sebelas tahun yang merupakan awal cikal bakal hancurnya khalifah Bani Ummyah di Andalusia . Dan hancur pada tahun 1009 M . akhirnya pada tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan khalifah, saat ini spanyol sudah terbagi kepada banyak sekali negara kecil.

E..KEMAJUAN ISLAM DI ANDALUSIA
Pada masa pemerintahannya, Dinasti Umayyah telah mencapai banyak kemajuan di Andalusia. Banyak prestasi yang telah ditoreh bahkan pengaruhnya sampai ke Eropa, dan kemudian mempengaruhi dunia. Diantara kemajuan- kemajuan yang telah dicapai adalah:

1.Kemajuan Intelektual
Masyarakat Islam Andalusia merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas Arab-Arab (Utara dan Selatan), Al-Muwalladun (orang-orang Andalusia yang masuk Islam), Barbar (umat Islam yang berasal dari Afrika Utara) Al-Shaqallibah (penduduk antara Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran), serta Yahudi Kristen yang berbudaya Arab dan Kristen yang masih menentang kehadiran Islam. Semua komunitas ini kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalusia yang melahirkan kebangkitan ilmiah, sastra dan pembangunan fisik di Andalusia. Kemajuan-kemajuan intelektual ini dapat dilihat diberbagai bidang antara lain:
a.      Filsafat
     Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, yaitu Muhammad Ibn Abdul Al-Rahman (832-886 M).[7]
Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Andalusia adalah Abu Bakr Muhammad Ibn Al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr Ibn Thufail, ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hay Ibn Yaqzhan. Bagian akhir abad ke 12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang dikenal sebagai komentator pikiran-pikiran dialah Ibn Rusyd (Averroes) hidup antara 1126-1198 M, karena itu pula ia dijuluki sebagai Aristoteles II, pengaruhnya sangat menonjol atas pendukung filsafat skholastik Kristen dan pikiran-pikiran Sarjana Eropa pada abad pertengahan.[8]
b.   Sains
Dalam bidang ini bermunculan tokoh-tokoh ilmuwan seperti Abbas Ibn Farnas termashyur dalam ilmu kimia dan astronomi orang yang pertama menemukan pembuatan kaca dari batu, Ibrahim bin Naqqash dalam bidang astronomi dapat menentukan kapan terjadinya gerhana matahari dan kapan lamanya, Abbas Ibn Farnas juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad Ibn Abbas dari Cordova ahli dalam bidang obat-obatan dan banyak lagi tokoh-tokoh yang disebutkan namun sangat besar jasanya dalam perkembangan dan pencerahan ilmu pengetahuan pada masa itu.
c.    Fiqih
Dalam bidang fikih, Andalusia Islam dikenal sebagai penganut madzhab Maliki. Yang memperkenalkan madzhab ini adalah Ziad Ibn Abd Al-Rahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi qadhi pada masa Hisyam Ibn Abd Al-Rahman. Ahli-ahli fikihnya lainnya diantaranya adalah Abu Bakar Ibn Al-Quthiyah, Munzir Ibn Sa’id Al-Baluti, dan Ibn Hazm yang terkenal.
d.   Musik dan Kesenian
Tokohnya Al-Hasan  Ibn Nafi yang dijuluki Zaryab, Zaryab yang selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya yang terkenal sebagai penggubah lagu.


e.    Bahasa dan Sastra
Karya-karya sastra banyak bermunculan, seperti Al-Iqad Al-Farid karya Ibn Abd Rabbih , Al-Dzakhirah fi Mahasin Ahl Al-Jazirah oleh ibn Bassam, Kitab Al-Qalaid buah karya Al-Fath Ibn Khaqan dan banyak lagi yang lain.
f. IImu kependidikan
Titik berat ilmu kependidikan yang berkembang pada masyarakat intelek Islam Spanyol adalah perhatian mereka pada keharusan seseorang bisa membaca dan menulis yang secara mendasar ditujukan kepada (kecakapan membaca dan menulis) Al-Qur'an, tata bahasa Arab dan sya'ir. Di samping itu kegiatan kependidikan juga (dalam hal-hal tertentu) berpusat pada persoalan-persoalan hukum atau fiqh (yang merupakan istilah derivat tidak langsung dari kata syari'ah atau wahyu dan mengalami penyempitan makna. Dalam masyarakat Islam Spanyol, wanita juga memperoleh kedudukan yang tinggi dalam hal penerimaan pendidikan. Suatu keadaan yang (sedikit berbeda dengan kondisi Geografis dunia Islam pada umumnya) sangat kontras dengan keadaan umum masyarakat Eropa pada waktu itu.
Dengan kondisi seperti itu pada abad-abad berikutnya jumlah orang yang belajar ke Spanyol terus bertambah. Universitas-universitas Cordova, Toledo, Granada, Clan Sevilla dibanjiri para mahasiswa dari bebagai penjuru Eropa, Afrika Utara dan Timur Tengah. Kondisi seperti itulah yang belakangan dipercayai berjasa mengantar Renaissance dan reformasi ilmu pengetahuan di Eropa.
g. IImu Kesejarahan
Perkembangan ilmu kesejarahan di Spanyol tidak bisa lepas dari peran Ibnu Khaldun (1332-1406 M) sebagai sosok reformer, baik analisis sejarah murni ataupun historiografi. Kelahirannya memang agak belakangan dibanding dengan tokoh-tokoh sejarah Spanyol seperti Ibnu Qutaybah (wafat 977 M) dan Ibnu Hayyan (988-1076 M) serta sejarawan lainnya Namun sebuah karya monumentalnya, Muqaddimah, telah mencuatkkan namanya menjadi sosok luar biasa terutama dalam Ilmu sejarah. Teori life cycle untuk dinasti-dinasti baik secara langsung ataupun tak langsung telah di adopsi oleh para ilmuan dunia menjadi teori Civilization life cycle.
h. IImu Keperjalanan
Perkembangan Ilmu keperjalanan ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh geografi di kalangan masyarakat intelek Islam di Spanyol diantaranya Abu Ubayid al-Bakri (wafat 1094 M), AI- Idrisi lahir 1100 M dan Abu al-Husain bin Ahmad (Iahir 1145 M) merupakan tokoh-tokoh diantara para tokoh geografi yang belakangan melahirkan tokoh-tokoh adventurers, seperti Ibnu Jubair yang melakukan journey pulang-pergi dari Granada ke Mekkah melalui Mesir, Irak, Syria dan Sicilya. Tokoh legendaris yang belakangan muncul adalah Ibnu Batutah (1304-1377 M). Dia telah melakukan 4 kali perjalanan Haji ke Mekah yang dilanjutkan dengan petualangannya ke berbagai negeri Muslim. Negeri-negeri di Timur seperti Srilanka dan Bengal telah dikunjunginya bahkan sampai ke Cina. Perjalanan terakhirnya pada tahun 1353 telah membawanya ke pedalaman Afrika.
i. IImu Kealaman
Perkembangan Ilmu kealaman di masyarakat intlek Islam Spanyol ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh dalam cabang-cabang ilmu tersebut seperti astronomoi, matematika, ilmu tumbuhan kedokteran dan lain-lain. Dalam perkembanganya terdapat satu ilmu sempalan dari astronomi yang kemudian dinilai kontroversial oleh umumnya masyarakat Islam yaitu astronomi dangan tokohnya Abu Ma'syar (al-falaki). la mengatakan bahwa posisi bintang-bintang berpengaruh terhadap kelahiran, kematian dan apa saja yang terjadi dimuka bumi ini.
Namun demikian perkembangan ilmu astronomi "murni", yang melatar belakangi ilmu astronomi modern, terus berkembang, sampai menjelang abad pertengahan. Bersamaan dengan itu matematika juga memiliki tokoh-tokohnya tersendiri. Sekalipun sering pula diantara tokoh itu, kepiawaiannya juga meliputi ilmu-ilmu lain, seperti Al-Majriti (lahir 1007 M), Al-Zarqali (1029-1087 M), Ibnu Aflah (lahir 1140 M), dan Al-Bitruji (lahir 1204 M). Mereka itu ahli astronomi dan matematika sekaligus.
Perkembangan ilmu tumbuh-tumbuhan tersebut, berjalan seiring dengan perkembangan ilmu farmasi dan kedokteran. Hal tersebut disebabkan, secara terapan, ilmu tersebut berperan sebagai supplier terhadap ilmu farmasi dan kedokteran. Obat-obatan yang ditentukan dan dipakai oleh para dokter, sumber penelitiannya memang dari ilmu tumbuh-tumbuhan. Dalam perkembangan kedokteran tercatat dokter wanita dari keluarga Ibnu Zuhr.
j. IImu Kepustakaan
Dengan menitik beratkan kepada Ilmu pendidikan masyarakat Intelek Islam Spanyol sudah pasti menyediakan sarana-sarana penunjang, agar apa yang mereka lakukan bisa berhasil seoptimal mungkin. Keberadaan perpustakaan dengan sejumlah besar bukunya merupakan salah satu diantara sekian sarana penunjang kependidikan yang menjadi pusat perhatian mereka. Sebagai contoh, perpustakaan AI-Hakam yang jumlah bukunya mencapai 400.000 buah[9]. Disamping itu juga bursa buku adalah kegiatan yang sering ditemui di Cordova. Suatu kondisi logis dari sebuah masyarakat intelek yang memusatkan perhatian kepada pengkajian-pengkajian ilmiah.
Sumber-sumber dana yang berasal dari badan-badan wakaf yang didirikan secara khusus untuk itu telah sangat membantu peningkatan kualitas perpustakaan. Managemen Lay out berkembang seiring perkembangan perpustakaan tersebut



k. Para Tokoh Ilmu Pengetahuan
Di atas telah dikemukan sejumlah tokoh ilmu pengetahuan. Namun demikian, untuk melengkapi uraian tersebut, berikut ini akan dikemukakan secara selintas (breifley) beberapa tokoh lainnya sekaligus dengan sfesifikasi keahlian yang dimiliki masing-masing tokoh tersebut. Agar lebih jelas penulis menampilkan dalam bentuk table berikut:

NAMA
USIA
KEAHLIAN
KARYA TULIS
Al-Zahrawiy
Hidup abad X
Ahli Bedah
Al-Tasrif
Ibnu Julul
944-994 M
Dokter Khalifah
Thabaqod Al-Thib
Ibnu Al-Wafid
1007-1067 M
Farmakolog
Dokter
Ahli Tumbuhan
Kitab Al-Wisad
Abu Marwan
Wafat 1078 M
Ahli Figh
Ahli Qur’an
Kedokteran
Abu-al-A’la
Wafat 1030 M
Ahli Hadist
Ahli Filsafat
Ahli Diagnosa
Abu Marwan
1092-1162 M
Dokter
Parasitolog
Ahli Diagnosa (teman Ibnu Rusd)
Al-Iqtida
Al-Aghdiya
Ibnu Safar
Wafat 1035
Ahli Matematika
Ahli Astronomi
Tabel Astronomi
Astrolable

l. Pengaruh Perkembangan Ilmu Pengetahuan Terhadap Dunia Barat
Dengan kekecualian pada ilmu keagamaan, boleh dikatakan seluruh perkembangan ilmu pengetahuan di masyarakat intelek Islam Spanyol mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan di dunia barat, terutama setelah memasuki abad pertengahan. Pernyataan ini tercermin dari perkataan Chistave Le Bon ia mengatakan bahwa perkenalan dengan peradaban Islamlah sebenarnya yang membawa Eropa menjadi dunia beradab. Abad ke-9 dan ke-10 adalah saat pusat-pusat Islam di Spanyol sedang berada di puncak kecemerlangannya. Pusat-pusat intelektual di barat hanya berupa benteng-benteng yang dihuni oleh para bangsawan yang dirinya merasa bangga atas ketidakmampuannya membaca mereka.[10]

2. Kemajuan dalam Pembangunan Fisik
Aspek pembangunan fisik yang mendapat perhatian umat Islam sangat banyak seperti halnya dalam perdagangan. Jalan-jalan dan pasar dibangun seindah mungkin. Di samping itu pula bidang pertanian juga tidak ketinggalan dengan memperkenalkan sistem irigasi, kemudian memperkenalkan pertanian padi, jeruk, kebun dan taman-taman.

3. Kemajuan Kebudayaan
Biasanya, nilai-nilai tinggi kebudayaan suatu masyarakat di ketahui dari kraya-karya yang secara audio-visual (atau salah satu dari keduanya), sampai pada masyarakat berikutnya.
Hasil pekerjaan (seni dengan menggunakan) logam (metal-work) termasuk didalamnya dekorasi dengan bahan baku emas dan perak banyak dijumpai sebagai bukti kemajuan kebudayaan masyarakat Islam Spanyol di antaranya adalah dekorasi interior Al-Hamra dan peninggalan Hisyam II (976-1009 M) yang masih terpelihara pada bagian atas altar katedral di Gerona, berbentuk peti mayat kayu yang dilapisi perak yang berkilat dan bergambar, hasil karya dua orang pengrajin Arab Badr dan Tarif, yang keduanya merupakan anggota Istana.
Barang-barang dari keramik juga ditemukan, di samping barang logam, dengan pusat industrinya di Valencia, yang imitasinya belakangan ini diketahui baru ada pada abad ke-15 di Belanda. Industri keramik ini ahirnya juga sampai ke Italy. Selain dari itu, seni dalam tekstil yang mewah juga tertuang dalam hamparan karpet-karpet Spanyol dengan Cordova sebagai pusat industri tenunannya. Dari sana produk-produk tekstil itu tersebar ke berbagai pelosok Eropa.
Dari segi arsitektur, seluruh monumen keagamaan yang bernilai seni telah habis, kecuali hanya satu yang terbesar yaitu mesjid Agung Cordova. Fondasi mesjid tersebut dibuat oleh Abdurrahman I dan diselesaikan oleh anaknya Hisyam I pada tahun 793 M, yang terletak pada bekas gereja Kristen. Hal lain yang tidak kalah menariknya dalam masyarakat Islam Spanyol adalah seni musik. Seni musik Islam Spanyol merupakan gabungan dari sistim Persia-Arab. Sistim tersebut di bawa ke Spanyol pada tahun 822 oleh Ziryab, seorang siswa sekolah musik Ishag al-Maushuli di Baghdad. Dia mendirikan sekolah musik di Cordova, dan selanjutnya bermunculan sekolah-sekolah musik dengan berkiblat ke sekolah Ziryab di Cordova, di Sevilla, Valencia dan Granada.[11]
Jasa-jasa seniman musik muslim sangat banyak jumlahnya. Di antarnya musik Mensural (ukuran tempo dan nada), glossa (tangga nada), tarkib atau compound (gesekan pada not serentak) dan Octave sehingga melahirkan harmoni, yang belum dikenal pada waktu itu di daratan Eropa. Masyarakat barat sekarang ini juga mewarisi alat-alat musik yang bersenar dari masyarakat Islam. Sehingga ahirnya disimpulkan bahwa masyarakat barat berhasil menemukan revolusi musik dewasa ini, sebetulnya merupakan kelanjutan dari revolusi musik pada masyarakat Islam.

4. Pembangunan di Bidang Perekonomian
Masa pemerintahan abdurrahman II merupakan zaman kegemilangan Islam, karena pertumbuhan ekonomi yang baik terutama di bidang pertanian. Tanah-tanah gersang diubah menjadi lahan yang produktif. Guna meningkatkan produktivitas pertanian, Para ahli muslim melakukan study tentang tanah, menggunakan alat-alat baru untuk meratakan gunduka-gundukan dan tanah berpasir. Juga menggunakan pupuk untuk mempersubur tanah serta meningkatkan sistem irigasi.
Perkembangan kemajuan di bidang perdagangan sangat memberikan keuntungan, termasuk bea dan cukai, ekspor-impor yang dapat menempatkan kerajaan Islam Spanyol pada tingkat tertinggi penghasilannya. Perkembangan di bidang ekonomi ini ditopang juga oleh perencanaan pembelanjaan kerajaan yang terorganisir dengan baik sesuai rencana.[12]

5. Pembangunan Dalam Bidang Militer dan Pemerintahan
Sebagai suatu wilayah negara, Spanyol Islam diperlengkapi dengan personil-personil militer lebih banyak dari jumlah ketika mereka datang. Dan untuk keamanan serta pertahanan kedaulatannya, Amir membangun kekuatan militer di Spanyol. la mendatangkan lebih dari 40.000 personil dari Afrika untuk dilatih dengan mendapat gaji baik, agar mereka benar-benar setia menghormati dan mau ikut menjaga kekuasaan Amir. Pasukan militer dibedakan menjadi empat kelompok yaitu:
1.    Tentara tetap (Profesional) yang berpangkalan di Cordova.
2.    Tentara Reguler (Jund) yang dipimpin oleh penguasa wilayah militer.
3.    Tentara Irreguler (Belladi), yaitu orang-orang Arab yang datang bersama Musa Ibnu Nushair.
4.    Tentara luar biasa atau sukarelawan (Hasyid), yaitu orang-orang yang tidak diminta dan dengan sukarela bergabung bersama kekuatan militer.[13]
Disamping pasukan darat, dibentuk pula kekuatan laut setelah adanya serangan mendadak Normandia di pantai barat Spanyol pada tahun 844-845 M. Kemudian dibangun menara-menara pengintai musuh yang melakukan kegiatan di samudra Atlantik di sepanjang pantai.
Setelah Abdurrahman al-Dakhil (Abdurrahman I) meninggal, maka pemerintahan dipegang oleh anaknya Hisyam I (789-796), Dia seorang yang memiliki pengetahuan yang luas tentang Al-Qur'an dan sunnah, dan banyak dipengaruhi oleh ulama fikih. la meneruskan pembangunan masjid Cordova dan juga membangun terusan Cordova. Hisyam adalah seorang penguasa yang taqwa, adil dan lemah lembut serta darmawan. Dia menduduki tahta selama 8 tahun, tetapi banyak kemajuan-kemajuan yang dicapai.
Setelah Hisyam wafat, ia diganti oleh anaknya hakam I (796-822 M). Hakam adalah orang yang suku akan kemegahan dan pertunjukan-pertunjukan serta sangat kecanduan dengan minuman anggur. Pada masa kekuasaannya terjadi pemberontakan yang dipelopori oleh Sulaiman dan Abdullah pamannya sendiri, yang akhirnya pemberontakan itu dapat dipadamkan. Sulaiman meninggal dan Abdullah diampuni setelah ia menyerah.
Sesudah Hakam meninggal; pemerintahan di pegang oleh putranya Abdurrahman II (822-852 M). Dengan pengalaman militernya yang tinggal dan kecakapannya dalam memimpin pemerintahan, Abdurahman II telah berhasil membawa Spanyol kembali kepada kedamaian dan kemakmuran. Di masanya Mesjid Cordova diperluas, dan banyak mesjid baru dibangun di kota-kota Jaen, Seville,dan di ibu kola Cordova sendiri. Barang-barang di impor dari Timur. Bendungan dan irigasi dibangun, ibu kota diperindah dengan taman-taman yang luas lagi indah yang dilalui oleh terusan-terusan yang mengalirkan air dari gunung-gunung. Jembatan-jembatan dibangun dan istana Cordova telah dapat menandingi istana di Bagdad. Setelah menjalankan pemerintahannya selama 30 tahun yang membawa kepada kemakmuran, Abdurahman II meninggal dunia pada tahun 852 M
Pemerintahan berikutnya setelah Abdurahman II wafat, Dipegang oleh anaknya Muhammad 1(852-886 M). Masa kekuasaanya banyak terjadi kerusuhan dalam negeri, antara lain: Pemberontakan rakyat Toledo, Pemberontakan orang-orang Kristen yang fanatik di Cordova yang telah ditumpas oleh Abdurahman II, namun mereka tetap berhubungan dengan raja Perancis, Charles Le Beld dengan tujuan mengajaknya untuk menyerang Spanyol. Akhirnya pemberontakan-pemberontakan itu dapat dipadamkan, bahkan pemberontakan itu di Tabanos yang merupakan sarang fanatisme dihancurkan. Para pemimpin mereka digantung. Muhammad I adalah orang yang bijak, adil, dan berani. Dia memperbaiki keadaan rakyat dengan kedermawanannya. La seorang yang rajin dalam meneliti urusan administrasi sekecil apapun.[14] la meninggal dalam usia 65 tahun setelah menjalankan pemerintahannya selama 34 tahun.
Kemudian pemerintahan diganti oleh anaknya Munzir (886-888 M). la cukup mampu menumpas pemberontakan ketika ayahnya memerintah. Masa pemerintahannya yang begitu singkat diawarnai dengan ketidak damaian dan kericuhan.
Setelah Munzir wafat, ia digantikan oleh saudaranya Abdullah (888-912). la memerintah cukup lama selama 25 tahun, tetapi masa kekuasaannya selalu mendapat tantangan yang cukup banyak.
Selanjutnya pemerintahan dipegang oleh Abd al-Rahman al-Nashir atau Abdurrahman III (912-961 M). Ia naik tahta dalam usia 23 tahun, usia yang relatif muda. Usaha yang dilakukannya pertama kali ditujukan kepada pengukuhan kesatuan dan stabilitas dalam negeri. Begitu ia dilantik ia mengirim utusan kepada gubernur-gubernur yang ada disemenanjung Iberia dan mengajak mereka untuk memberikan bai'at kepadanya. Sebagian diantara mereka menyambut seruan itu dengan baik dan sebagian yang lain tidak memperdulikannya. Dalam menghadapi penentanganya, Abdurahman III menumpasnya dengan militer sehingga dalam jangka 10 tahun umat Islam Spanyol bersatu kembali.(Benton, 1970: 1087).
Abdurahman III membangun beberapa buah istana dan memajukan pertanian rakyat. Rakyat taat kepadanya dan semua orang merasa hidup damai bersamanya. la mewajibkan penguasa-penguasa Kristen membayar upeti ke Cordova. Pada tahun 929, ia memproklamirkan dirinya sebagai khalifah. Pada masa kekuasaanya, Cordova merupakan pusat kebudayaan Islam yang penting di Barat sebagai tandingan Bagdad di Timur. Kalau di Bagdad ada bait al-Hikmah serta madrasah Nizamiah, dan Kairo ada al-Azhar serta Dar al-Hikmah, maka di Cordova ada universitas Cordova sebagai pusat ilmu pengetahuan. Perpustakaanya mengandung ratusan ribu buku.[15]
Cordova, Constantinopel dan Bagdad adalah tiga kota yang merupakan pusat kebudayaan dunia pada saat itu. Di Cordopa terdapat 113.000 rumah, 70 Perpustakaan, sejumlah toko buku dan Mesjid, bermil-mil jalan aspal diterangi dengan lampu-lampu dari rumah-rumah yang berhampiran. Semuanya membuat Cordova memperoleh popularitas Internasional dan kekaguman para pengunjungnya. Banyak perutusan diplomatik berkumpul di Cordova, baik dari dalam maupun dari luar Spanyol. Delegasi berdatangan dari suku-suku Zanatah Afrika Utara yang kuat, dari dinasti Idrisi, dari raja-raja Kristen Prancis, Jerman dan Konstantinopel. Abdurrahman III di anggap sebagai sang penyelamat imperium muslim Spanyol.
Dengan berbagai kebijakan dan kemampuan intelektualnya, maka stabilitas nasional terkendali serta dapat menarik masyarakat Spanyol dengan tidak menimbulkan jurang pemisah antara kelas dan golongan agama yang ada, sehingga benar-benar tercipta suatu imperium Umayyah yang damai dan kuat di Spanyol. Setelah memegang kekuasaan selama 49 tahun, ia meninggal dunia pada bulan oktober 961 M.
Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh anaknya Hakam II (961-976 M). la meneruskan politik ayahnya dalam mempertahankan stabilitas pemerintahan dan kemakmuran negaranya. Hakam memiliki sifat yang mirif dengan ayahnya. Ia tetap mempertahankan menteri-menteri yang diangkat oleh ayahnya. Pada masa pemerintahannya la memerangi pemberontakan Kristen yang ingin melepaskan diri dari Spanyol. Sepeninggal Hakam II, Pemerintahan dipegang oleh Hisyam II (976-1009 M). Pada masa pemerintahannya, kekuasaan khalifah mengalami kemunduran. Kekuasaan umat Islam di Spanyol saat itu berada wazir dan wali Hisyam II yang bernama Ibnu Abi Amir, yang kemudian bergelar al-Mansur.

6. Pembangunan di Bidang Administrasi Sipil
Ketika Spanyol masih merupakan wilayah yang integral dengan Damaskus, Spanyol Islam adalah bagian dari propinsi maghrib (wilayah Barat) yang ibu kotanya di Qairawan (sekarang Tunisia), maka konstitusi yang berlaku sesuai dengan yang ada di Damaskus. Sementara itu Spanyol terbagi menjadi tiga wilayah, yaitu : Pusat, Timur dan Barat. Wilayah pusat meliputi kota Cordova, Granada, Malaga, Almeria, Jaen dan Toledo. Wilayah Timur meliputi Saragosa, Valencia, Murcia, Cartagena dan Albarraccin. Wilayah Barat meliputi . Sevilla, Jerez, Gibraltar, Tarifa, Beja, Budajoz, Merida, Silves dan lisbon.[16]
Untuk melaksanakan pemerintahannya dibetuk lembaga-lembaga atau badan-badan yang mempunyai tugas dan fungsi tertentu yang di tangani oleh orang-orang yang sesuai dengan ke ahliannya. Beberapa badan dan jabatan yang ada pada saat itu antara lain:
1.    Al-Hajib, yaitu pejabat yang paling berpengaruh di lingkungan istana, Sebagai media antara penguasa dengan pegawai-pegawai istana dan rakyat lainnya.
2.    Al-wazir atau menteri, yaitu orang yang menangani masalah keuangan, hubungan luar negeri dan keadilan. Jabatan ini kemudian menyamai jabatan hajib yang biasanya diduduki oleh para panglima militer.
3.    Al-Katib atau Sekretaris Negara, meliputi pekerjaan korespondensi dan pengiriman surat-surat serta dokument negara.
4.    Khazin al-Mal (petugas pajak), yaitu orang yang mengurusi pajak-pajak dari seluruh propinsi.
5.    Al-Qadli atau Hakim, yang dibagi 3 bagian, yaitu hakim militer, hakim rakyat dan Hakim para hakim.
6.    Shahib al-Mazhalim, yaitu badan pengendalian atau semacam hakim yang bertugas mengoreksi penyimpangan-penyimpangan para pejabat. Biasanya jabatan ini ditangani oleh penguasa atau delegasinya.
Lembaga-Iembaga lain sebagai pembantu adalah lembaga kepolisian, inspektur pasar, dinas pekerjaan umum, dan lembaga perwakafan. Disamping itu ada Juga majelis-majelis yang diselenggarakan untuk membahas berbagai persoalan.

7. Faktor-Faktor Pendukung Kemajuan
Kemajuan demi kemajuan yang dicapai oleh masyarakat intelektual Muslim pada khususnya dan masyarakat Islam di Spanyol pada umumya sudah barang tentu tidak terwujud begitu saja tanpa faktor-faktor pendukung yang menyertainya. Terdapat sejumlah faktor pendukung bagi terwujudnya kemajuan tersebut. Ada yang bisa disimpulkan dari apa yang telah diuraikan diatas. Ada juga yang kelihatannya terlepas dari uraian diatas dan diketahui secara hermeneutik, hanya implikasi dari kondisi-kondisi objektif yang ada pada masyarakat Islam Spanyol. Faktor-faktor pendukung tersebut diantaranya adalah :
1)   Ketika Islam datang ke Spanyol, komposisi masyarakat yang ada dinegeri itu cukup heterogen yang terdiri dari orang Arab, orang Arab-Spanyol, orang Afrika Utara, dan orang Yahudi. Heterogenitas masyarakat tersebut belakangan diketahui memberikan saham intelektual dan kebudayaan yang cukup hebat yang kemudian melahirkan kembali era kebangkitan ilmu pengetahuan dan peradaban.
2)   Heterogenitas komposisi masyarakat, di ikuti dengan heterogenitas agama. Sementara Islam datang dengan semangat toleransi begitu tinggi. Bahkan dengan semangat toleransi itu Islam telah mengakhiri kezaliman keagamaan yang sudah berlangsung sejak lama.[17] Bagi orang Kristen dan orang Yahudi disediakan hakim khusus yang sesuai dengan agama mereka masin-masing.[18] Semua kelompok agama dengan datangnya Islam, mendukung dan menyertai pembangunan peradapan yang berkembang dengan gemilang.
3)   Adanya semangat kesatuan budaya Islam yang timbul pada pemikiran para ulama dalam arti luas. Hal ini terbukti sekalipun dalam konstelasi politik, masyarakat Islam Spanyol melepaskan diri dari Baghdad, dari banyaknya para ulama Spanyol yang mendalami ilmu di Bagdad untuk dikembangkan kemudian di Spanyol.
4)   Persaingan antar muluk AI-Thawa'if ternyata justru menyebabkan perkembangan peradaban. Kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Cordova, semuanya bersaing ingin menandingi Cordova dalam hal kemajuan Ilmu pengetahuan, sastra, seni, kebudayaan.
5)   Adanya dorongan dari para penguasa yang mempelopori kegiatan-kegiatan ilmiah, seperti Abdurahman I, Abdurahman II, Abdurahman III, dan AI-Hakam II.

F. KEMUNDURAN ISLAM DI ANDALUSIA
Sudah merupakan hukum alam bahwa suatu negara akan tumbuh, dan berkembang kemudian mencapai puncak kejayaan. Setelah mencapai puncak kejayaan dan secara perlahan akan mengalami kemunduran dan akhirnya hancur. Teori perkembangan yang tak dapat dielakkan oleh manusia karena sudah merupakan hukum alam. Demikian pula halnya dengan Spanyol yang dikuasai oleh Islam. Setelah Islam memperoleh kejayaan selama lebih kurang 7 abad, terjadi kemunduran yang membawa kepada kehancuran. Banyak faktor yang menyebabkan Dinasti Bani Umayyah di Spanyol ini mundur dan kemudian hancur. Adapun faktor-faktor yang kemunduran dan kehancuran tersebut antara lain adalah:

1. Terjadinya Pemberontakan
Terjadi beberapa peristiwa dan pemberontakan dan keharusan yang dilakukan oleh golongan-golongan tertentu yang merasa tidak puas, tidak senang, dan cemburu terhadap khalifah yang berkuasa. Pada zaman khalifah Hisyam (788-796 M) terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh saudara-saudaranya sendiri, Abdullah dan sulaiman. Mereka mempermaklumkan kemerdekaan dan memobilisasi kesatuan-kesatuan mereka di Teledo, tetapi mereka dapat dikalahkan oleh pasukan Hisyam yang terdiri dari 20.000 tentara pada tahun 790 M. Disamping itu, terdapat pula pemberontakan yang dilakukan oleh kaum Yamaniah di Tertosa yang dipimpin oleh Said Ibnu Husain, tetapi mereka dapat dikalahkan. Pada zaman Khalifah Abdurrahman (756-788 M) terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh orang Berber, Yamaniah dan kepala-kepala suku Arab di Spanyol yang meminta bantuan kepada pejuang Kristen Prancis bernama Charles, dan mereka dapat dikalahkan oleh tentara Abdurrahman.
Pada zaman khalifah Hakam (796-822) terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh kaum faqih yang berambisi memperoleh kedudukan, mereka menghasut dan mencela hakam sebagai orang yang tidak beragama, dengan pidato-pidatonya mereka membakar kefanatikan orang-orang Muslim Spanyol. Dan kaum Faqih dapat ditumpas dan mendapat serangan dari Sulaiman dan Abdullah, paman hakam yang masih hidup ketika dikalahkan oleh Hisyam, mereka meminta bantuan kepada Raja Franka, Charlemagne di Aix la Chapella. Akan tetapi mereka dapat dikalahkan, dan Sulaiman gugur dalam pertempuran, adapun Abdullah diampuni setelah ia menyerah.[19] Setelah itu terjadi pula pemberontakan penduduk Taledo, yang akhirnya mereka dibantai dan mayatnya dibuang kedalam parit.
Banyak sekali pemberontakan-pemberontakan yang muncul pada zaman khalifah-khalifah selanjutnya, yang pada akhirnya pemberontakan tersebut dapat diatasi. Sekalipun demikian hal ini merupakan faktor yang menyebabkan lemah dan mundurnya Dinasti Bani Umayyah di Spanyol.

2. Perubahan Struktur Politis
Di zaman Hisyam II (976-1013 MO terdapat perubahan struktur politis. Hisyam II baru berusia 11 tahun ketika ia menduduki tahta. Karena usianya masih sangat muda, Ibunya yang bernama Sultanah Subh, dan sekretarisnya negara yang bernama Muhammad Ibnu Abi Amir, mengambil alih tugas pemerintahan.[20] Hisyam II tidak mampu mengatasi ambisi para pembesar istana dalam merebut pengaruh dan kekuasaan.
Menjelang tahun 981 M, Muhammad Ibnu Abi Amir yang ambisius menjadikan dirinya sebagai penguasa diktator. Dalam perjalanannya ke puncak kekuasaan ia menyingkirkan rekan-rekan dan saingannya. Hal ini dimungkinkan karena ia mempunyai tentara yang setia dan kuat, ia amengirimkan tentara itu dalam berbagai ekpedisi yang berhasil menetapkan keunggulaannya atas para pangeran Kristen di Utara. Pada tahun itu juga Muhammad Ibnu Abi Amir memakai gelar kehormatan al-Mansur Billah. la dapat mengharumkan kembali kekuasaan Islam di Spanyol, sekalipun ia hanya merupakan seorang penguasa bayangan. Kedudukan Hisyam II tidak ubahnya seperti boneka, hal ini menunjukkan bahwa peranan khalifah sangat lemah dalam memimpin negara, dan ketergantungan kepada kekuatan orang lain mencerminkan bahwa khalifah dipilih bukan atas dasar kemampuan yang dimilikinya melainkan atas dasar warisan turun menurun. Hisyam II memang bukan orang yang cakap untuk mengatur negara, tindakannya menimbulkan kelemahan dalam negeri. la tidak dapat membaca gejala-gejala pergerakan Kristen yang akan mulai tumbuh dan mengancam kekuasaannya. Keadaan ini diperburuk dengan meninggalnya al-Muzaffar pada tahun 1009 M yang dalam kurun waktu 6 tahun masih dapat mempertahankan kekuasaan Islam di Spanyol.
AI-Muzaffar kemudian digantikan oleh Hajib al-Rahman Sancol. Karena ia tidak berkualitas dalam memegang jabatannya sehingga dimusuhi penduduk dan kehilangan kesetiaan dari tentaranya. Akibatnya timbul kekacauan, karena tidak ada orang atau kelompok yang dapat mempertahankan ketertiban di seluruh negara. Akhirnya Hisyam II mema'zulkan diri pada tahun 1009 M, yang kemudian dipulihkan kembali tahtanya pada tahun berikutnya.
Sejak itu sampai tahun 1013 M, ia dan 6 orang anggota Umayyah lainnya serta tiga orang anggota keluarga setengah Barber masing-masing menjabat khalifah sementara. Dalam masa lebih kurang 22 tahun (1009-1031) M terjadi 9 kali pertukaran khalifah, tiga orang di antaranya dua kali maenduduki jabatan khalifah pada priode tersebut. Pada tahun 1031 M khilafah dihapuskan oleh orang-orang Cordova.[21]

3. Munculnya Raja-raja Kecil
Timbulnya Perpecahan Dinasti Umayyah di Spanyol ditandai dengan munculnya raja-raja kecil, di antaranya Dinasti Abbadi. Dinasti Murabit, Dinasti Muwahhid, dan Dinasti Bani Nasr. Mereka saling beperang dan mengadakan aliansi baik dengan penguasa Muslim atau dengan penguasa Kristen (Aragon dan Castille) yang dulu tidak dihancurkan oleh Musa Ibnu Nusair di zaman Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh orang-orang Kristen, munculnya dinasti-dinasti kecil ini, yang menurut W. Montgomery watt, berjumlah sekitar tiga puluh negara kecil disebabkan penghapusan khilafah.

4. Adanya Permintaan Bantuan terhadap Kekuasaan Luar
Munculnya Dinasti Murabit dari Afrika Utara, yang datang ke Spanyol atas permintaan al-Mu'tamin untuk membantu untuk melawan Al-fonso, Raja castille. Dengan bantuan ini al-Mu'tamin, Amir Cordova dapat mengalahkan al-Fonso VI. Tetapi, sayangnya dengan kemenangan ini Yusuf Ibnu Tasyifin, raja Dinasti Murabit berhasrat hendak menguasai kekayaan Spanyol. Dua tahun kemudian Ibnu Tasyfin datang ke Spanyol, dan dalam waktu yang singkat Ia dapat menguasai Spanyol seluruhnya, karena perpecahan antara Arab dengan Arab dan antara Arab dengan Berber. Dengan demikian berdirilah di Spanyol Dinasti Murabit pada tahun 1090 M-1147 M. Akibat tindakan Ibnu Tasyfin tersebut timbul perpecahan antara muslim Spanyol dan Muslim Arab. Orang-orang Arab yang merasa tertekan meminta bantuan kepada Dinasti Muwahhidin di Moroko. Dinasti ini tidak menyia-nyiakan permintaan bantuan orang-orang Arab, mereka datang menyerbu Spanyol dan dengan mudah mereka dapat menguasainya. Hilanglah Dinasti Murabit dan berdirilah Dinasti Muwahhidin di Spanyol.

5. Melemahnya Kekuatan Militer dan Ekonomi
Disintegrasi politik yang terjadi pada waktu itu menyebabkan lemahnya kekuatan militer dan ekonomi, sedangkan faktor ekonomi sangat memegang peranan penting dalam mempersiapkan biaya perang. Orang-orang Kristen rupanya tahu tentang keadaan umat Islam yang sudah oyong itu. Oleh karena itu, pangeran-pangeran Kristen di Utara memperkuat posisi mereka untuk memerangi kaum Muslimin yang telah berpecah belah. Orang-orang Kristen yang semula pada abad ke-10 membayar upeti kepada orang Islam, tetapi menjelang pertengahan abad ke-II mereka dengan leluasa menuntut pembayaran upeti dari beberapa penguasa kecil Islam.
Perbatasan kekuasaan Kristen makin meluas ke sebelah Selatan. Peristiwa terpenting adalah tahun 1085 ketika penguasa Teledo yang lemah tidak mampu menahan tekanan raja Castille sehingga menyerahkan kota tersebut kepadanya. Teledo memiliki pertahanan yang kuat, karena di jaga di tiga sisinya oleh sungai Tagus, dan tidak pernah dapat direbut kembali oleh orang-orang Islam.

6. Munculnya Kekuatan Kristen di Spanyol
Bersatunya dua kerajaan Kristen, Lean dan Castille pada tahun 1230 M, telah meningkatkan usaha perebutan kekuasaan terhadap kekuasaan Islam di Spanyol semakin efektif. Tahun 1236 M. Cordova dapat direbut, dan tahun 1248 M. Seville jatuh pula ke tangan orang-orang Kristen. Pada waktu yang bersamaan tentara Castille semakin kuat, dan satu persatu kota-kota kekuasaan Islam dapat dikuasainya. Kota Malaga pun jatuh satu tahun kemudian. Kemudian, orang-orang Kristen merencanakan untuk mengambil alih kosta Granada yang masih bertahan. Penaklukan Granada ini tertunda disebabkan oleh terjadinya perselisihan antara Castille dengan Aragon. Namun, perselisihan tersebut tidak berlangsung lama, karena hubungan mereka membaik setelah Ferdinand II dari Arragon menikah dengan Isabella dari Castille pada tahun 1469 M. Pada tahun 1490 M, Ferdinand membawa pasukan berkuda lebih kurang 10.000 orang, dan menyerbu Granada sampai la memperoleh kemenagan. Dengan jatuhnya Granada, maka hancurlah kekuasaan Islam di Spanyol dan negeri itu kembali dikuasai oleh Kristen.[22]
Pada tahun 1499 M, Cardinal Ximenes de Cismero melarang beredarnya buku-buku Islam dan ia membakarnya, bahkan pada tahun 1556 M, Philip II membuat undang-undang bagi orang-orang Islam yang tinggal di Spanyol untuk meninggalkan kepercayaan, adat istiadat, bahasa, dan pandangan hidup mereka. Hanya ada dua pilihan bagi orang-orang Islam, masuk agama Kristen atau meninggalkan Spanyol. Undang-Undang tersebut di pertegas oleh Philip III, banyak orang Islam yang dibunuh atas perintah raja Philip III. Nampaknya, kekejaman yang dilakukan itu merupakan cara untuk melenyapkan Islam sampai ke akar-akarnya.

G. KESIMPULAN
Dari sejumlah uraian di atas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa masuknya Islam di Spanyol berbeda dengan masuknya Islam di daerah lain. Datangnya Islam ke Spanyol atas permintaan dari penduduk setempat dan kedatangan Islam di Spanyol ternyata memberikan kontribusi yang tak ternilai, baik kepada dunia Islam, terlebih-lebih kepada dunia Barat, dalam hal ilmu pengetahuan dan peradaban. Kontribusi tersebut bisa terlaksana karena sikap ilmiah-konstruktif yang secara umum menyertai para ilmuan dalam melakukan kajian-kajian ilmiahnya. Sikap toleransi yang proporsional dalam komposisi masyarakat yang tingkat heterogenitasnya yang cukup tinggi, ternyata telah menghasilkan efek sinergi positif yang luar biasa dalam membangun sebuah nilai peradapan yang pluralistik.
Kemajuan yang dibawa dan diperkenalkan Islam dengan dunia barat ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh ilmuwan dan filosouf dari negeri tersebut. Spanyol pulalah yang menjadi gerbang utama masuknya Islam ke dunia Barat dan kemudian membangkitkan Barat dari dunia kegelapan dan memperkenalkan pada kemajuan.
Kekuasaan Islam di Spanyol yang telah mencapai puncak kejayaannya kemudian mulai melemah kemudian mundur dan hancur secara perlahan akibat berbagai faktor. Diantaranya faktor utama penyebab kehancuran tersebut adalah akibat terjadinya disintegrasi yang menyebabkan munculnya kerajaan-kerajaan kecil yang berusaha memerdekakan diri. Kekuasaan Islam kemudian digantikan oleh kekuasaan Kristen dan berusaha menghapus habis seluruh pengaruh Islam dan menghilangkan Islam dari bumi Spanyol.



















DAFTAR PUSTAKA

AI-Siba'l, Musthafa, Min Raw'i Hadaratina, ed Bahasa Indonesia Peradaban Islam Dulu, Kini dan Esok, alih bahasa R.B. Irawan dan Fauzi Rahman, Jakarta: Gema Insani Press, 1992.

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.

Chejne, Anwar G, 1974, Muslim Spain: Its History and Culture, Menneapolis: The University of Minnesota Press, 1974.

Faisal Ismail, Paradigma Kebudayaan Islam, Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1996.

Hitti, Pilip K, History of The Arabs, London: Macmillan, 1970, edisi ke-10. 

Imamuddin, S.M, Muslim Spain, 711-1492 AD: A Sociological Study, Leiden: E.J. Brill, 1981. 

Ma'arif, Syafi'l, Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia, Bandung: Mizan, 1994, cet. ke-2.

Madjid, Nurcholis, Islam Agama Peradaban Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah, Jakarta: Paramadina, 1995. 

Mahmudunnasir, Syed, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993, Cet. III.

Majdid Fakhri, Sejarah Filsafat Islam, Jakarta: Pustaka Jaya, 1996.

Maryam, Siti, dkk (ed.), Sejarah Peradaban Islam dari Klasik Hingga Modern Yogyakarta: Jurusan SPI Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga dan LESFI, 2003.

Nasution, Harun, Islam Ditinjaiu dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: Universitas Indonesia, 1978, Jilid I.

Siddiqi, Amir Hasan, Studies in Islamic History ed bahasa Indonesia, alih bahasa M.J. Irawan, Bandung: Al-Ma’a, 1985, cet. ke-10.

Sou'yb, Yoesoef, Sejarah Daulat Umayyah di Cordo, Jakarta: Bulan Bintang, 1977.

Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2008.

Syalabi Ahmad, al- Tarikh aI-Islam wa al-Hadharat Islamy, Cairo: Maktabat al-Nahdhat al-Misriyyat, 1979.

Thomson, Ahmad dan Muhammad ‘Ata’ ur Rahim, Islam Andalusia Sejarah Kebangkitan dan Keruntuhan, Jakarta: Gaya Media, 2004.

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Perpecahan Andalusia pada tahun 1031

Peta Andalusia
Peta Andalusia

Wilayah Kekuasaan Bani Umayyah

Andalusia Pintu Islam Masuk Eropa

Istana Al-Hambra
Masjid Cordova




[1] Ahmad Thomson dan Muhammad ‘Ata’ ur Rahim, Islam Andalusia Sejarah Kebangkitan dan Keruntuhan (Jakarta: Gaya Media, 2004), h. 3
[2] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2008), h. 117
[3] Ahmad Thomson, Islam Andalusia Sejarah Kebangkitan dan Keruntuhan, h. 4
[4] Siti Maryam, dkk (ed.), Sejarah Peradaban Islam dari Klasik Hingga Modern (Yogyakarta: Jurusan SPI Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga dan LESFI, 2003), h. 96
[5] Dedi, Sejarah Peradaban Islam, h. 118
[6] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993), h. 92-93.
[7] Majdid Fakhri, Sejarah Filsafat Islam  (Jakarta: Pustaka Jaya, 1996), h. 357.
[8] Faisal Ismail, Paradigma Kebudayaan Islam (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1996), h. 154
[9] Musthafa AI-Siba'l, Min Raw'i Hadaratina, ed Bahasa Indonesia (Peradaban Islam Dulu, Kini dan Esok), alih bahasa R.b. Irawan dan Fauzi Rahman, (Jakarta: Gema Insani Press, 1992) h. 183.
[10] Syafi’I Ma'arif, Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1994) cet. ke-2, h. 25-26

[11] Amir Hasan Siddiqi, Studies in Islamic History ed bahasa Indonesia, alih bahasa M.J. Irawan, (Bandung: Al-Ma’a, 1985), cet. ke-10, h. 89-92
[12] Yoesoef Sou'yb, Sejarah Daulat Umayyah di Cordo (Jakarta: Bulan Bintang, 1981), h. 221
[13] Imamuddin, S.M, Muslim Spain, 711-1492 AD: A Sociological Study (Leiden: E.J. Brill, 1981), h. 63
[14] Syed Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993), Cet. III, h. 297.
[15] Harun Nasution, Islam Ditinjaiu dari Berbagai Aspeknya (Jakarta: Universitas Indonesia, 1978), Jilid I, h. 65
[16] Chejne, Anwar G, 1974, Muslim Spain: Its History and Culture (Menneapolis: The University of Minnesota Press, 1974), h. 138.

[17] Nurchalis Madjid, Islam Agama Peradaban Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah (Jakarta: Paramadina, 1995), h. 70
[18] Ahmad Syalabi, al- Tarikh aI-Islam wa al-Hadharat Islamy (Cairo: Maktabat al-Nahdhat al-Misriyyat, 1979), h. 86
[19] Syed Mahmudunnasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, h. 290
[20] Ibid, h. 308
[21] Philip K Hitti, History of The Arabs (London: Macmillan, 1970), edisi ke-10, h. 218
[22] Hitti, Pilip K, History of The Arabs, h. 555

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar